8 mins read

Customer Complaint: Contoh, Matriks Risiko dan Cara Menanganinya

Tayang
Ditulis oleh:
Customer Complaint: Contoh, Matriks Risiko dan Cara Menanganinya
Mekari Qontak Highlights
  • Customer complaint adalah ungkapan rasa tidak puas pelanggan terhadap produk, layanan, atau pengalaman yang tidak sesuai harapan.
  • Bisnis perlu mengenali jenis-jenis customer complaint, dari keluhan produk, respons lambat, billing, hingga eskalasi yang berbelit, agar penanganannya tepat sasaran.
  • Aplikasi Customer Service Mekari Qontak membantu bisnis mengelola customer complaint lintas kanal melalui unified inbox, automasi SLA, dan dashboard analitik pola komplain dalam satu platform.

Mengelola customer complaint (keluhan pelanggan) menjadi urusan teknis operasional sekaligus pilar penting dalam menjaga reputasi dan kepatuhan bisnis. Ditambah dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mewajibkan standar mekanisme pengaduan yang ketat bagi pelaku usaha.

Hal ini menjadi kian krusial mengingat data Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) sempat mencatat lonjakan hingga 3.256 kasus pada 2021.

Meskipun angka tersebut melandai di tahun-tahun berikutnya, dominasi keluhan pada sektor jasa keuangan dan e-commerce menjadi pengingat bahwa kegagalan penanganan internal dapat dengan cepat berubah.

Artikel Mekari Qontak Blog kali ini akan membahas seputar customer complaint, dari jenis, cara menangani, matriks eskalasi hingga metrik customer complaint yang bisa bisnis Anda terapkan.

solusi customer service mekari qontak

Apa Itu Customer Complaint?

Customer complaint (komplain pelanggan) adalah ungkapan rasa tidak puas yang pembeli atau pengguna sampaikan ketika produk, layanan, atau pengalaman yang mereka terima tidak sesuai harapan.

Pelanggan bisa menyampaikan keluhan ini secara langsung, tertulis, maupun lewat media sosial, dan setiap keluhan berfungsi sebagai masukan penting bagi perusahaan untuk memperbaiki proses bisnis.

Complaint berbeda dari feedback pelanggan biasa karena kemunculannya dipicu oleh gap yang pelanggan rasakan antara ekspektasi dan realita layanan, bukan sekadar saran sukarela.

Dengan memahami perbedaannya, tim CS dapat memprioritaskan keluhan sebagai masalah yang memerlukan penanganan cepat, dibandingkan mencatatnya sebagai bentuk customer engagement rutin.


Jenis Customer Complaint yang Wajib Bisnis Pahami

Sebelum menyusun strategi penanganan, tim CS perlu mengenali pola keluhan yang paling sering muncul. Berikut lima jenis customer complaint yang wajib Anda pahami.

1. Keluhan Produk atau Layanan Tidak Sesuai Janji

Gap antara materi promosi dan realita produk menjadi pemicu complaint paling sering muncul di sektor e-commerce. Pelanggan yang merasakan gap ini cenderung menuntut kompensasi lebih cepat dibanding jenis keluhan lain.

2. Keluhan Respons Lambat dan SLA yang Terlewat

Waktu tunggu yang melebihi janji layanan memperbesar eskalasi emosional pelanggan, terlepas dari akar masalah aslinya.

Untuk itu, tim CS perlu memantau SLA respons secara real-time agar keterlambatan tidak memperburuk persepsi pelanggan terhadap masalah yang sebenarnya sederhana.

3. Keluhan Billing, Refund, dan Kesalahan Transaksi

Kategori ini paling sensitif karena menyangkut uang pelanggan secara langsung dan rawan berubah menjadi pengaduan formal ke regulator.

Peraturan OJK Nomor 18/POJK.07/2018 bahkan mewajibkan pelaku usaha jasa keuangan memiliki mekanisme pengaduan konsumen yang terstandarisasi.

Hal ini mengingat besarnya dampak keluhan billing terhadap kepercayaan publik.

4. Keluhan Informasi Tidak Konsisten Antar Kanal

Pelanggan yang menerima jawaban berbeda di WhatsApp dan email kehilangan kepercayaan lebih cepat dibanding saat masalah awal mereka belum selesai.

Ketidakkonsistenan ini biasanya muncul karena masing-masing tim mengakses data pelanggan dari sistem yang terpisah.

5. Keluhan Proses Eskalasi yang Berbelit

Ketika pelanggan harus berulang kali menjelaskan masalah yang sama kepada beberapa agent sebelum ditangani oleh pihak yang tepat, rasa frustrasi akan semakin meningkat.

Komplain yang semula disampaikan secara privat pun berisiko berubah menjadi ulasan atau keluhan terbuka di media sosial.

Situasi ini dapat memperbesar risiko reputasi perusahaan, terutama ketika masalah yang sebenarnya masih dapat diselesaikan di level agent justru berkembang menjadi sorotan publik.


Cara Menangani Customer Complaint: Langkah untuk Tim Lintas Fungsi

Survei Gartner terhadap 5.728 konsumen menemukan hanya 14% masalah customer service yang benar-benar tuntas lewat self-service.

Dengan demikian, komplain yang kompleks tetap membutuhkan eskalasi ke tim manusia dengan alur yang jelas. Berikut lima langkah menangani customer complaint lintas fungsi.

1. Terima dan Verifikasi Keluhan dengan Konteks Lengkap

Agent perlu mengakses histori pelanggan sebelum merespons agar pelanggan tidak perlu mengulang cerita yang sama ke tim berbeda. Konteks yang lengkap juga membantu agent menilai tingkat urgensi keluhan sejak awal.

2. Klasifikasikan Berdasarkan Kategori dan Tingkat Risiko

Setiap complaint perlu dikelompokkan berdasarkan jenis masalah, contohnya produk, billing, kualitas respons, atau informasi. Setelah itu, tim CS dapat menilai tingkat risiko dan dampaknya terhadap bisnis untuk menentukan pihak yang paling tepat menangani keluhan tersebut.

3. Tetapkan Pemilik dan SLA Resolusi yang Jelas

Setiap komplain perlu memiliki penanggung jawab dan target waktu penyelesaian yang spesifik.

Status seperti “sedang ditangani tim terkait” belum cukup untuk memastikan keluhan benar-benar bergerak menuju penyelesaian. Ownership yang jelas membantu mencegah complaint terhenti karena saling menunggu antar tim.

4. Eksekusi Solusi dengan Komunikasi Proaktif dan Empatik

Pelanggan perlu mendapatkan informasi mengenai perkembangan complaint selama proses penyelesaian berlangsung. Untuk itu, Anda update secara berkala bisa membantu menjaga ekspektasi pelanggan dan meredam frustrasi meskipun solusi akhir belum tersedia.

Das, dkk dalam ScienceDirect menemukan bahwa persepsi keadilan prosedural dalam proses recovery mempengaruhi respons emosional dan loyalitas pelanggan pasca-komplain.

Sejalan dengan Jeanpert, dkk dalam ScienceDirect yang menemukan bahwa keterlibatan interaksi manusia dalam proses recovery meningkatkan persepsi keadilan pelanggan terhadap penyelesaian masalah.

5. Dokumentasikan dan Tindak Lanjuti Pasca-Resolusi

Komplain yang sudah selesai sebaiknya tetap dicatat dan dianalisis sebagai bagian dari data operasional. Dengan begitu, tim dapat melihat pola masalah, menemukan akar penyebab, dan mencegah complaint serupa kembali terjadi.


Matriks Eskalasi Customer Complaint Berdasarkan Tingkat Risiko dan Dampak Bisnis

Matriks eskalasi membantu tim CS mengambil keputusan konsisten tentang siapa yang berwenang menyelesaikan complaint di tiap level, alih-alih mengandalkan penilaian subjektif agent per kasus.

Berikut gambaran sederhana matriks eskalasi berdasarkan tingkat risiko dan dampak bisnis.

Gunakan tombol panah kiri/kanan untuk menggulir secara horizontal.

Tingkat RisikoContoh KasusPihak Berwenang
Low-riskSalah info produk, pertanyaan status pesananAgent
Medium-riskKeterlambatan respons berulang, retur berlarutTeam lead
High-riskDugaan kesalahan transaksi, potensi pengaduan ke regulatorFunctional leader

1. Bedakan Complaint Low-Risk dan High-Risk

Komplain dengan risiko rendah, seperti kesalahan informasi produk, umumnya dapat diselesaikan langsung oleh agent.

Sebaliknya, kasus dengan risiko lebih tinggi, seperti dugaan kesalahan transaksi atau potensi pengaduan kepada regulator, perlu segera diteruskan ke pihak yang memiliki kewenangan lebih tinggi.

2. Tentukan Pihak yang Berwenang pada Setiap Level

Batas kewenangan antara agent, team lead, dan functional leader perlu ditetapkan sejak awal. Pembagian ini membantu mempercepat pengambilan keputusan dan menghindari proses yang tertahan hanya karena menunggu approval yang sebenarnya tidak diperlukan.

3. Tentukan Kapan Komplain Perlu Dieskalasikan

Kriteria eskalasi sebaiknya dibuat berdasarkan indikator yang dapat diukur.

Nilai transaksi, jumlah kanal yang digunakan pelanggan untuk menyampaikan complaint, serta riwayat keluhan berulang dapat menjadi dasar untuk menentukan kapan sebuah kasus harus diteruskan ke functional leader.

4. Susun Playbook Eskalasi untuk Tim Internal

Playbook eskalasi tidak harus kompleks. Tim dapat memulainya dengan mencantumkan kategori risiko, pihak yang bertanggung jawab pada setiap level, serta target waktu respons dan penyelesaian.

Setelah proses berjalan konsisten, perusahaan dapat mengevaluasi kebutuhan tooling tambahan.


Metrik yang Perlu Dipantau untuk Mengukur Efektivitas Penanganan Complaint

Data komplain yang terkumpul hanya berguna jika tim CS mengukurnya lewat metrik yang tepat. Berikut lima metrik yang perlu Anda pantau secara berkala.

1. First Response Time dan Resolution Time

First Response Time menunjukkan seberapa cepat pelanggan mendapatkan respons awal, sedangkan Resolution Time mengukur waktu yang dibutuhkan hingga masalah benar-benar selesai.

Kedua metrik ini membantu perusahaan melihat perbedaan antara kecepatan merespons dan kecepatan menyelesaikan complaint.

2. CSAT Pasca-Resolusi dan CSAT Umum

CSAT setelah komplain selesai dapat memberikan gambaran yang lebih spesifik mengenai kualitas proses recovery.

Metrik ini dapat dibandingkan dengan CSAT keseluruhan untuk melihat apakah pelanggan yang mengalami masalah mendapatkan pengalaman penyelesaian yang memadai.

3. Tingkat Re-Complaint atau Repeat Contact

Ketika pelanggan kembali menghubungi perusahaan untuk masalah yang sama, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa solusi sebelumnya belum menyelesaikan akar masalah.

Tingkat re-complaint yang tinggi perlu menjadi bahan evaluasi bagi tim CS maupun fungsi terkait.

4. Dampak ke Net Revenue Retention dan Cost-to-Serve

Menyambungkan data komplain dengan metrik retensi membantu tim CS menunjukkan nilai bisnis dari perbaikan proses, bukan sekadar operasional.

Riset Qualtrics XM Institute terhadap 23.730 konsumen di 20 industri menemukan bahwa kepuasan pasca-pengalaman, termasuk pasca-komplain, berkorelasi langsung dengan tingkat kepercayaan, kemauan merekomendasikan, dan potensi pembelian ulang pelanggan.

5. Analisis Tren Complaint dari Waktu ke Waktu

Jumlah komplain bulanan belum tentu memberikan gambaran lengkap mengenai kondisi customer service. Anda juga perlu melihat pola musiman, lonjakan complaint setelah peluncuran fitur, maupun perubahan jenis keluhan dari waktu ke waktu.

Pola tersebut dapat membantu perusahaan menemukan sumber masalah sebelum volumenya semakin besar.


Contoh Customer Complaint dan Cara Meresponnya

Berdasarkan pengalaman Mekari Qontak dalam membantu bisnis lintas industri mengelola unified inbox dan automasi SLA, jenis complaint serta pendekatan penanganannya dapat berbeda sesuai karakteristik industri.

Berikut beberapa contoh yang umum ditemui oleh tim CS.

1. Sektor Jasa Keuangan

Keluhan terkait billing dan kegagalan transaksi membutuhkan respons cepat serta pencatatan yang lengkap.

Audit trail yang jelas penting untuk membantu perusahaan menelusuri proses penyelesaian, terutama ketika kasus berpotensi masuk dalam ranah pengawasan OJK.

2. Sektor E-Commerce

Keluhan terkait retur, refund, dan pengiriman lebih mudah dikelola ketika pelanggan dapat mengetahui status setiap tahap proses.

Informasi yang spesifik mengenai posisi complaint dan langkah berikutnya biasanya lebih membantu daripada sekadar memberikan janji waktu penyelesaian.

3. Sektor Telekomunikasi

Ketika terjadi gangguan jaringan secara massal, komunikasi proaktif dapat membantu mengurangi masuknya tiket individual yang sebenarnya berasal dari satu sumber masalah.

Pelanggan dapat memperoleh informasi mengenai gangguan dan perkiraan penanganannya tanpa harus menghubungi CS satu per satu.

4. Sektor Layanan dan Horeca

Ketika volume complaint meningkat pada jam sibuk, sistem antrean berdasarkan tingkat urgensi dapat membantu tim menentukan kasus mana yang perlu diprioritaskan.

Pendekatan ini lebih fleksibel dibandingkan menerapkan prinsip first-in-first-out untuk seluruh complaint.

5. Sektor B2B/SaaS

Pelanggan bisnis biasanya membutuhkan penjelasan yang lebih terstruktur ketika terjadi downtime atau pelanggaran SLA.

Laporan insiden, kronologi, dampak, dan langkah perbaikan menjadi bagian penting dari proses recovery karena gangguan layanan dapat berdampak langsung pada operasional pelanggan.


Kelola Customer Complaint Anda Lebih Sistematis dengan Mekari Qontak

Selama ini, complaint yang tersebar di banyak kanal tanpa kategori risiko dan ownership yang jelas membuat tim CS sulit memprioritaskan mana keluhan yang benar-benar mendesak.

Aplikasi Customer Service Mekari Qontak membantu mengelola customer complaint melalui unified inbox omnichannel, serta automasi SLA dan eskalasi untuk memastikan setiap komplain memiliki penanggung jawab dan tenggat waktu yang jelas. 

Sistem manajemen tiket yang terintegrasi dengan agentic AI membantu mengklasifikasikan complaint berdasarkan kategori dan risiko, sementara dashboard analitik memberikan visibilitas terhadap pola complaint, re-complaint, hingga kaitannya dengan retensi pelanggan.

Pelajari bagaimana Aplikasi Customer Mekari Qontak membantu bisnis dalam mengelola customer complaint dengan lebih sistematis. Coba gratis sekarang atau konsultasikan kebutuhan bisnis Anda dengan tim Mekari Qontak.

Referensi

solusi customer service mekari qontak

Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang Customer Complaint (FAQ)

Apa perbedaan customer complaint dan customer feedback?

Apa perbedaan customer complaint dan customer feedback?

Customer complaint muncul karena pelanggan merasakan gap antara ekspektasi dan realita layanan, sehingga sifatnya reaktif dan butuh resolusi.

Customer feedback lebih bersifat sukarela dan bisa berupa masukan positif maupun negatif tanpa tuntutan penyelesaian.

Bagaimana cara mengklasifikasikan customer complaint berdasarkan tingkat urgensinya?

Bagaimana cara mengklasifikasikan customer complaint berdasarkan tingkat urgensinya?

Tim CS bisa mengklasifikasikan complaint berdasarkan nilai transaksi yang terdampak, jumlah kanal yang pelanggan pakai untuk mengadu, dan riwayat komplain berulang pelanggan tersebut

Berapa lama waktu ideal untuk menyelesaikan satu customer complaint?

Berapa lama waktu ideal untuk menyelesaikan satu customer complaint?

Waktu ideal bergantung pada tingkat risiko dan kompleksitas kasus, namun umumnya first response time idealnya di bawah satu jam untuk kanal chat.

Bagaimana cara mengukur apakah proses penanganan customer complaint di perusahaan sudah efektif?

Bagaimana cara mengukur apakah proses penanganan customer complaint di perusahaan sudah efektif?

Efektivitas penanganan complaint bisa diukur lewat kombinasi first response time, resolution time, CSAT pasca-resolusi, dan tingkat re-complaint.

Tren metrik ini dari waktu ke waktu lebih informatif dibanding melihat satu angka di satu periode saja.

Siapa yang seharusnya bertanggung jawab menangani customer complaint lintas kanal?

Siapa yang seharusnya bertanggung jawab menangani customer complaint lintas kanal?

Tanggung jawab utama biasanya berada di tim customer service, namun complaint dengan risiko tinggi membutuhkan keterlibatan team lead atau functional leader terkait, seperti tim produk atau finance.