8 mins read

Menjawab Ekspektasi Modern Customer Experience: Webinar Recap Qontak

Tayang
Ditulis oleh:
Menjawab Ekspektasi Modern Customer Experience: Webinar Recap Qontak
Mekari Qontak Highlights
  • Pelanggan digital saat ini tidak lagi bergerak secara linear sehingga standar pelayanan enterprise wajib terintegrasi sejak interaksi awal
  • Kecepatan respons dan profil pelanggan yang terintegrasi menjadi kunci utama untuk mencegah hilangnya potensi leads
  • Mengukur keberhasilan customer experience perlu menyandingkan Customer Metrics dan Business Metrics secara sejajar di setiap tahap journey
  • Kolaborasi antara kecerdasan buatan (AI Agent) dan agen manusia terbukti memberikan skor kepuasan pelanggan (CSAT) paling optimal
  • Ekosistem Omnichannel Inbox, CRM, dan Customer Data Platform Mekari Qontak menyatukan seluruh riwayat interaksi dalam satu basis data terpusat

Sebagian besar perusahaan enterprise kini telah memiliki berbagai channel digital, mulai dari website, WhatsApp, media sosial, hingga marketplace. 

Namun, tantangan terbesarnya bukan lagi sekadar keberadaan channel tersebut, melainkan bagaimana menghadirkan pengalaman pelanggan (customer experience) yang konsisten serta berdampak langsung pada pertumbuhan bisnis.

Melalui rangkuman webinar ini, Mekari Qontak Blog menghadirkan dua sudut pandang yang saling melengkapi: kerangka strategis dari praktisi CX dan bukti operasional dari tim pengembangan platform customer engagement. 

Diskusi mendalam ini dibawakan langsung oleh Yanuar Rezqi (CX Consultant & Co-founder Retensi AI) dan Dimas Fauzi Hidayat (Senior Product Manager Mekari Qontak). Simak rangkuman selengkapnya di bawah ini.

CTA Banner modern customer experience

Mengapa Modern Customer Experience Membutuhkan Pendekatan Customer Journey Baru?

Yanuar Rezqi membuka sesinya dengan menyoroti perubahan mendasar dalam memetakan customer journey. 

Selama ini, marketing funnel konvensional yang bergerak linear dari awareness, consideration, purchase, retention, hingga advocacy selalu dipahami sebagai alur garis lurus. 

Namun pada realitanya, perilaku pelanggan digital saat ini jauh lebih dinamis dan kerap melompati tahapan tersebut.

Sebagai contoh, seseorang yang baru berada di tahap bertanya atau sekadar mencari informasi awal sudah bisa langsung melakukan advocacy dengan membagikan review atau meneruskan pesan ke orang lain.

Implikasinya sangat besar bagi perusahaan berskala enterprise. Standar pelayanan tidak lagi bisa dirancang secara terpisah di setiap tahapan. 

Satu pengalaman buruk di tahap awal saat calon pelanggan “sekadar bertanya” dapat dengan cepat menjadi ulasan publik, jauh sebelum prospek tersebut sempat melakukan transaksi.


Dua Fondasi yang Menjaga Customer Journey Tetap Terstruktur

Ketika alur customer journey tidak lagi bergerak secara linear, Yanuar menekankan agar bisnis bisa mengadopsi dua fondasi utama berikut ini di seluruh tahapan layanan:

  • Omni-channel customer care: Menyelaraskan tone of voice, standar waktu respons (SLA), hingga kualitas jawaban agar tetap identik di berbagai channel seperti WhatsApp, Instagram, maupun web chat meskipun interaksi dialihkan antaragen.
  • Database dan CRM/CDP terpusat: Mengintegrasikan seluruh data leads, riwayat transaksi, keluhan, garansi, hingga repeat purchase ke dalam satu sistem terpadu, bukannya terpisah dalam catatan internal masing-masing tim.

Penerapan kedua fondasi ini krusial bukan sekadar argumen teoritis. Data internal Mekari Qontak menunjukkan bahwa seorang agen customer service rata-rata mampu menangani hingga 68 percakapan per hari. 

Tanpa adanya profil pelanggan yang terintegrasi di seluruh channel, pelanggan hanya akan terus  mengulang kronologi masalah mereka setiap kali berpindah channel atau berkonsultasi dengan agen yang berbeda.


Mengoptimalkan Channel Chat Sebagai Pintu Utama Penjualan dan Layanan Enterprise

Sesi kedua yang dibawakan oleh Dimas Fauzi Hidayat, Senior Product Manager Mekari Qontak, memperkuat persepsi pentingnya integrasi channel pesan. 

Perilaku konsumen Indonesia telah bergeser secara signifikan: ketersediaan channel digital bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan menjadikan aplikasi pesan instan sebagai channel utama interaksi bisnis.

Data pasar terbaru menegaskan dominasi tren pesan instan ini dalam ‘kacamata’ operasional layanan pelanggan enterprise:

modern customer experience-1

Tingginya preferensi konsumen terhadap messaging channel membawa dampak langsung bagi perusahaan berskala enterprise. 

Ketika chat menjadi garda depan bisnis, kualitas interaksi—mulai dari kecepatan respons, konsistensi jawaban, hingga tingkat personalisasi—secara langsung menentukan konversi pipeline penjualan, bukan lagi sebatas indikator kepuasan customer service.

Kondisi ini tercermin dari data internal Mekari Qontak, di mana lebih dari 98% perusahaan pengguna mengandalkan WhatsApp sebagai channel komunikasi utama mereka. 

Indikator ini membuktikan bahwa bagi pasar Indonesia, WhatsApp telah bertransformasi dari sekadar opsi pesan singkat menjadi infrastruktur komunikasi bisnis yang vital.


Tiga Pilar Ekspektasi Modern Customer dalam Layanan Digital

Dimas merangkum dinamika tuntutan pelanggan saat ini ke dalam tiga ekspektasi fundamental yang tampak sederhana, namun diperlukannya kesiapan sistem yang matang:

  • Konsisten: Menjamin standar pelayanan, nada komunikasi, serta keakuratan informasi yang setara di seluruh channel—baik WhatsApp, Instagram, web chat, maupun Facebook Messenger.
  • Cepat: Memberikan respons instan dalam hitungan detik secara 24/7, termasuk pada malam hari dan akhir pekan.
  • Dikenali: Menghargai waktu pelanggan dengan menyediakan riwayat interaksi yang terpusat, sehingga mereka tidak perlu mengulang nomor tiket, ID pelanggan, atau kronologi masalah setiap kali menghubungi bisnis Anda.

Finansial perusahaan Anda bisa saja berdampak serius jika gagal memenuhi ketiga ekspektasi ini.

Pasalnya, saat perusahaan Anda memberikan respons yang terlambat, sekitar 60–70% leads yang masuk di luar jam operasional akan hilang begitu saja. 

Selain itu, 3 dari 5 bisnis mengakui bahwa lambatnya waktu tanggap menjadi faktor utama penyebab lepasnya calon pelanggan yang sebenarnya sudah memiliki minat beli tinggi.


Menyeimbangkan Indikator Keberhasilan: Customer Metrics vs Business Metrics

Salah satu poin paling krusial dari pemaparan Yanuar adalah pentingnya mengukur keberhasilan customer experience secara berpasangan di setiap tahapan journey. 

Tim manajemen tidak bisa lagi hanya memilih salah satu jenis metrik, melainkan harus menyandingkan indikator kepuasan pelanggan dengan performa finansial secara seimbang.

Metrik ini perlu dipetakan secara terintegrasi di tiga tahapan utama:

  • Pre-Sales: Indikator kepuasan pelanggan seperti reach, engagement, response time, dan CSAT diukur sejajar dengan metrik bisnis seperti Cost per Lead, Customer Acquisition Cost (CAC), serta Revenue per Channel.
  • In-Sales: Customer Effort Score (CES) dan Transaction Success Rate dipantau bersamaan dengan Gross Margin dan Cart Abandonment Value.
  • Post-Sales: Repeat Purchase Rate, Net Promoter Score (NPS), dan Customer Lifetime Value (CLV) dievaluasi berpasangan dengan risiko Churn Revenue Loss.

“Kalau leads banyak tapi closing sedikit, atau CSAT tinggi tapi sales turun, berarti ada yang perlu dievaluasi dari experience yang kita ciptakan,” – Yanuar Rezqi (CX Consultant & Co-founder Retensi AI).

Pendekatan ini penting justru karena kedua metrik itu bisa saling bertentangan secara semu. Tim yang hanya mengejar Customer Metrics berisiko menciptakan pengalaman yang “menyenangkan” tapi tidak menghasilkan revenue; tim yang hanya mengejar Business Metrics berisiko mengorbankan pengalaman demi angka jangka pendek.


Area yang Sering Terabaikan: Layanan Aftersales dan Risiko Churn

Yanuar menyoroti kecenderungan umum di mana banyak perusahaan sangat fokus di tahap awal penjualan, namun melupakan pelanggan setelah transaksi selesai. 

Hal ini ia gambarkan dari pengalamannya sendiri saat membeli kendaraan listrik: proses pembelian berlangsung sangat cepat dan responsif, tetapi sama sekali tidak ada layanan after-sales care yang menyapa kembali setelahnya. Akibatnya, ia merasa ragu untuk merekomendasikan brand tersebut kepada orang lain. 

“Banyak bisnis terlalu fokus pada akuisisi pelanggan baru sampai lupa mengukur Churn Revenue Loss — kerugian dari pelanggan lama yang tidak pernah beli lagi,” – Yanuar Rezqi (CX Consultant & Co-founder Retensi AI).

Bagi perusahaan berskala enterprise, komunikasi yang proaktif seperti onboarding maksimal 2×24 jam hingga program loyalitas bukan sekadar program tambahan. 

Langkah-langkah ini merupakan bagian penting dari strategi menjaga pendapatan yang nilainya sama krusialnya dengan mencari pelanggan baru.


Kapan AI Membantu, Kapan Manusia Harus Turun Tangan

Poin pembeda utama dalam pembahasan ini terletak pada data riil operasional yang dibagikan oleh Dimas dari sistem pendukung Mekari Qontak. Data ini mencerminkan hasil pengukuran nyata dari ratusan organisasi yang telah mengimplementasikan teknologi messaging terintegrasi.

Implementasi teknologi AI ini memberikan dampak terukur terhadap efisiensi tim customer service:

modern customer experience-2

Namun, manfaat utamanya tidak berhenti pada sekadar efisiensi atau pengurangan beban kerja tim. 

Temuan terpenting dari analisis tingkat kepuasan pelanggan (CSAT) menunjukkan bahwa percakapan yang dimulai oleh AI lalu dihandover ke agen manusia dengan konteks lengkap menghasilkan skor kepuasan tertinggi—melampaui percakapan yang hanya ditangani oleh AI sepenuhnya maupun manusia sepenuhnya.

Hasil ini sejalan dengan empat prinsip pengalaman pelanggan yang relevan, yaitu: instan, berada dalam satu konteks, sesuai dengan kebutuhan tahap pelanggan, serta keterlibatan manusia di momen yang paling tepat. 

Strategi idealnya bukan memilih antara AI atau manusia, melainkan membagi peran secara presisi: AI bertugas menangani volume pesan awal dan penyaringan (triase), sementara agen manusia berfokus pada penyelesaian kendala yang lebih kompleks, sensitif, dan membutuhkan human touch.


Dari Omnichannel Inbox ke Customer Data Platform: Bagaimana Semuanya Terhubung?

Untuk mewujudkan strategi customer experience yang dipaparkan Yanuar ke dalam operasional sehari-hari, Dimas menjelaskan empat komponen utama yang saling terhubung dalam ekosistem Mekari Qontak: 

  • WhatsApp & Omnichannel: Mengintegrasikan seluruh chat dari berbagai channel—mulai dari WhatsApp, Instagram, web chat, hingga marketplace—ke dalam satu inbox terpadu.
  • Chatbot & AI Agent: Merespons, menyaring leads, dan bekerja secara otomatis selama 24/7, serta handover ke agen manusia untuk penanganan kasus yang lebih kompleks.
  • CRM (Customer Relationship Management): Mencatat setiap interaksi sebagai deal penjualan atau tiket support yang dapat dipantau progres follow-up-nya secara terukur.
  • Customer Data Platform (CDP): Menggabungkan seluruh data dan riwayat interaksi ke dalam satu profil pelanggan terpusat sebagai dasar segmentasi serta personalisasi layanan.

Cara-cara ini menegaskan kembali fondasi yang disampaikan Yanuar di sesi pertama: omnichannel customer care dan database terpusat bukan dua inisiatif terpisah, melainkan satu infrastruktur yang sama, dilihat dari dua sisi — sisi pengalaman pelanggan dan sisi sistem yang menjalankannya.


Mengubah Framework Menjadi Eksekusi Nyata Lewat Mekari Qontak

Keberhasilan digital experience membutuhkan komitmen kepemimpinan untuk menjadikan CX sebagai agenda strategis manajemen dengan KPI lintas divisi. Visi ini hanya dapat terwujud jika didukung dengan sistem yang mampu menyatukan percakapan dan data pelanggan secara utuh.

Di sinilah omnichannel customer care dan database terpusat bertemu dengan solusi Mekari Qontak. 

Aplikasi Omnichannel Mekari Qontak hadir menggabungkan seluruh chat dari WhatsApp, Instagram, hingga web chat ke satu inbox terpadu dengan SLA yang konsisten. 

Di saat yang bersamaan, aplikasi CRM Mekari Qontak mencatat setiap interaksi sebagai deal atau tiket, memberikan satu sumber data bagi manajemen untuk mengukur Customer Metrics dan Business Metrics secara sejajar.

Anda dapat mulai melangkah dengan melakukan konsultasikan kebutuhan bisnis Anda bersama tim kami, atau langsung uji coba gratis Mekari Qontak untuk merasakan kemudahan mengelola modern customer melalui satu sistem terpadu.

CTA Banner modern customer experience

Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang Modern Customer Experience (FAQ)

Mengapa alur customer journey saat ini tidak lagi berbentuk garis lurus?

Mengapa alur customer journey saat ini tidak lagi berbentuk garis lurus?

Pelanggan digital dapat dengan mudah berpindah dan melompati tahapan funnel, di mana seseorang yang baru berada di tahap mencari informasi (awareness) bisa langsung memberikan ulasan atau membagikan rekomendasi (advocacy) secara publik.

Apa bedanya Customer Metrics dan Business Metrics dalam strategi CX?

Apa bedanya Customer Metrics dan Business Metrics dalam strategi CX?

Customer Metrics berfokus pada indikator kepuasan seperti CSAT, NPS, dan kecepatan respons, sedangkan Business Metrics mengukur dampak finansial seperti Customer Acquisition Cost (CAC), Gross Margin, dan Churn Revenue Loss. Kedua jenis metrik ini harus dievaluasi secara berpasangan agar tidak terjadi ketimpangan antara kepuasan pelanggan dan profitabilitas bisnis.

Apakah penggunaan AI Agent dapat menggantikan peran agen customer service manusia sepenuhnya?

Apakah penggunaan AI Agent dapat menggantikan peran agen customer service manusia sepenuhnya?

Tidak, strategi terbaik adalah menggabungkan keduanya secara presisi: AI Agent berfungsi menangani volume pesan awal dan pertanyaan repetitif secara otomatis, sementara agen manusia menangani keluhan yang lebih kompleks, sensitif, dan membutuhkan empati.

Bagaimana cara Mekari Qontak membantu mengintegrasikan data pelanggan di seluruh channel?

Bagaimana cara Mekari Qontak membantu mengintegrasikan data pelanggan di seluruh channel?

Mekari Qontak menggabungkan fitur Omnichannel Inbox untuk mengelola percakapan dari WhatsApp, Instagram, dan web chat di satu tempat, yang secara otomatis terhubung dengan sistem CRM dan Customer Data Platform (CDP) untuk mencatat seluruh riwayat interaksi pelanggan secara terpusat.