5 mins read

Hard Selling vs Soft Selling: Contoh dan Perbedaannya dalam Bisnis

Tayang
Hard Selling vs Soft Selling: Contoh dan Perbedaannya dalam Bisnis
Mekari Qontak Highlights
  • Soft selling dan hard selling adalah dua teknik penjualan dengan pendekatan berbeda, soft selling menekankan hubungan dan bujukan halus, sedangkan hard selling fokus pada urgensi dan penjualan cepat.
  • Perbedaan utama keduanya terletak pada taktik penjualan, durasi proses closing, tingkat ketertarikan pelanggan, serta bidang industri yang menggunakannya.
  • Hard selling umumnya digunakan pada industri seperti asuransi, perbankan, dan telemarketing dengan komunikasi langsung dan tekanan waktu.
  • Soft selling lebih banyak diterapkan pada content marketing, email marketing, dan konsultan melalui pendekatan edukatif dan membangun kepercayaan.
  • Kombinasi soft selling dan hard selling dapat membantu bisnis memaksimalkan penjualan, terutama jika didukung dengan sistem CRM untuk mengelola hubungan pelanggan secara efektif.

Soft selling dan hard selling adalah dua teknik penjualan yang banyak digunakan oleh sales untuk mencapai target penjualan mereka. Namun, keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan dan dapat memberikan dampak yang berbeda.

Lalu, apa perbedaan soft selling dan hard selling? Untuk mengetahuinya, yuk simak pembahasan lengkap tentang hard selling dan soft selling lengkap dengan contohnya pada Mekari Qontak blog berikut ini.


Apa itu Hard Selling vs Soft Selling?

Hard selling adalah teknik penjualan yang dirancang untuk membuat pelanggan membeli dalam jangka waktu yang pendek.

Teknik hard selling menggunakan argumen langsung, urgensi, dan emosi untuk membuat pembeli membeli dalam waktu singkat.

Sementara, soft selling adalah teknik penjualan yang berfokus pada bujukan halus dan menggunakan bahasa santai. Tujuannya adalah untuk menciptakan pengalaman penjualan bertekanan rendah untuk prospek yang cenderung tidak mematikan mereka dari dorongan berlebihan.

Namun tidak berarti soft selling identik dengan “pasif”. Sales yang menggunakan teknik soft sell tetap harus gigih selama proses penjualan dan memiliki pengetahuan tentang produk atau layanan yang mereka tawarkan untuk membangun keahlian mereka.


Perbedaan Soft Selling dan Hard Selling

Setelah mengetahui apa itu hard selling dan soft selling, kini saatnya untuk Anda mengetahui apa saja perbedaan di antara keduanya. Berikut adalah perbedaan hard selling dan soft selling:

1. Taktik yang Digunakan

Perbedaan soft selling dan hard selling yang pertama adalah taktik yang digunakan. Seperti namanya, strategi soft selling akan menggunakan taktik yang lebih lembut untuk mendorong penjualan.

Sementara hard selling sebaliknya, yakni menggunakan taktik yang lebih keras untuk melakukan closing penjualan.

2. Lama Proses Penjualan

Perbedaan selanjutnya adalah durasi waktu proses penjualan yang dibutuhkan untuk melakukan closing. Umumnya hard selling akan menggunakan durasi waktu yang lebih singkat, karena memberikan tekanan kepada calon pembeli untuk segera melakukan pembelian.

Sementara soft selling memiliki durasi waktu yang lebih lama, karena tenaga penjualan akan lebih fokus dalam membangun hubungan dan kepercayaan dengan prospek mereka daripada mendorong penjualan.

3. Ketertarikan Pelanggan

Ketertarikan pelanggan adalah perbedaan lainnya yang dapat Anda temui dalam praktik soft sell dan hard sell.

Di mana soft selling biasanya digunakan untuk memberikan ketertarikan pelanggan pada produk atau merek bisnis.

Namun, ini tidak berarti hard selling tidak dapat membuat pelanggan tertarik dengan produk yang ditawarkan. Hanya saja, ketertarikan tersebut tidak seintens apabila Anda menggunakan teknik soft selling.

4. Bidang yang Menggunakan

Perbedaan soft selling dan hard selling yang terakhir adalah bidang industri yang menggunakannya.

Umumnya, bidang yang menggunakan teknik hard selling untuk menutup penjualan bisnis adalah industri asuransi, perbankan, telemarketing, dan lainnya.

Sedangkan teknik soft selling biasa digunakan oleh konsultan, content creative, email marketing, dan masih banyak lagi.


Contoh Hard Selling

Contoh Hard Selling

Contoh hard selling sebenarnya sangat mudah untuk ditemui di kehidupan sehari-hari. Misalnya seperti contoh promosi hard selling infomercial” yang ada di channel TV belanja.

Infomercial adalah istilah yang digunakan untuk informasi komersial, biasanya ini adalah presentasi produk yang dilakukan di TV.

Iklan hard selling ini akan memberikan alasan bagi penonton untuk membeli produk yang ditawarkan, dan sering kali menggunakan alasan yang didukung oleh kesaksian seorang ahli.

Adapun contoh kalimat hard selling yang digunakan adalah seruan langsung “telepon sekarang” atau “pesan sekarang”, dan diiringi dengan waktu yang terhitung mundur untuk mendesak pelanggan mereka yang sedang menonton.


Contoh Soft Selling

Dalam penerapannya, terdapat beberapa contoh soft selling yang dapat Anda gunakan untuk melakukan closing penjualan.

Berikut adalah contoh teknik soft selling:

1. Product Placement

Product placement atau yang dikenal juga dengan iklan terselubung adalah salah satu contoh iklan soft selling yang banyak digunakan saat ini.

Anda dapat menemukan berbagai contohnya dalam serial drama, film, atau konten-konten lainnya yang ada di platform digital.

Misalnya adalah adegan dalam sebuah K-drama yang menunjukkan pemeran utama wanita sedang menggunakan skincare sebelum pergi tidur.

Meskipun tidak menyebutkan atau mempromosikan informasi produk secara terang-terangan dengan naskah iklan, namun sebenarnya ia sedang memperkenalkan brand skincare tersebut kepada para penonton.

2. Produk Sampel Gratis

Contoh teknik soft selling selanjutnya yang tidak kalah menarik adalah produk sampel gratis. Mengingat, hampir semua orang di dunia ini menyukai produk yang diberikan secara cuma-cuma.

Biasanya, produk gratis akan dibagikan oleh brand yang sedang melakukan promosi pembukaan toko atau peluncuran produk baru.

Memang benar bahwa brand atau sales tidak menawarkan pembelian produk secara langsung, namun produk gratis yang mereka bagikan akan memberikan kesan bagi pelanggan atau audiens yang mencobanya.

Ketika mereka senang dan menyukai produk yang diberikan, mereka tidak akan segan-segan untuk membeli produk tersebut secara langsung.

3. Notifikasi Terkait Keranjang Belanja

Berbeda dengan dua contoh soft selling sebelumnya, teknik ini biasanya digunakan oleh bisnis e-commerce yang menyediakan fasilitas keranjang belanja di situs web mereka.

Saat sedang melihat-melihat produk di suatu e-commerce, Anda mungkin akan memasukan beberapa item produk ke dalam keranjang belanja Anda. Namun, Anda tidak benar-benar membelinya dalam waktu yang lama.

Perwakilan penjualan kemudian akan memberikan notifikasi terkait keranjang belanja Anda, bahkan beberapa ada yang mengingatkan bahwa produk yang ada di cart Anda sedang mendapatkan potongan diskon dan sayang untuk dilewatkan.


Gunakan Teknik Soft Selling dan Hard Selling untuk Memaksimalkan Penjualan Bisnis Anda!

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa teknik soft selling dan hard selling adalah dua teknik penjualan yang sangat berbeda. Di mana soft sell menggunakan pendekatan yang lebih halus dan tidak memaksa, sementara hard sell sebaliknya.

Namun demikian, Anda tetap dapat menggunakan keduanya untuk memaksimalkan penjualan Anda. Tapi ingat, mengutamakan hubungan dengan prospek dan pelanggan akan memberikan dampak yang lebih positif bagi bisnis Anda.

Adapun salah satu cara untuk meningkatkan hubungan pelanggan adalah dengan menggunakan teknologi pendukung seperti sistem CRM. Mekari Qontak menyediakan aplikasi CRM terbaik yang dilengkapi berbagai fitur canggih untuk mendukung penjualan dan pemasaran Anda.

Mekari Qontak telah dipercaya lebih dari 3000+ perusahaan untuk membantu mereka menciptakan hubungan yang baik dengan pelanggan dan meningkatkan penjualan. Jadi tunggu apa lagi?

Kategori : BisnisSales

Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang Hard Selling vs Soft Selling (FAQ)

Apakah soft selling selalu lebih efektif dibanding hard selling?

Apakah soft selling selalu lebih efektif dibanding hard selling?

Tidak selalu. Efektivitas soft selling atau hard selling sangat bergantung pada jenis produk, karakter target pasar, dan tujuan penjualan. Produk dengan siklus pembelian panjang umumnya lebih cocok menggunakan soft selling, sementara hard selling efektif untuk produk dengan kebutuhan mendesak.

Kapan waktu yang tepat bagi bisnis untuk beralih dari soft selling ke hard selling?

Kapan waktu yang tepat bagi bisnis untuk beralih dari soft selling ke hard selling?

Bisnis dapat beralih ke hard selling ketika prospek sudah menunjukkan minat tinggi, memahami manfaat produk, dan berada di tahap akhir pengambilan keputusan. Pada fase ini, dorongan urgensi dapat membantu mempercepat proses closing.

Bagaimana cara mengukur keberhasilan strategi soft selling dan hard selling?

Bagaimana cara mengukur keberhasilan strategi soft selling dan hard selling?

Keberhasilan dapat diukur melalui indikator seperti tingkat konversi, durasi siklus penjualan, tingkat retensi pelanggan, dan kepuasan pelanggan. Analisis data penjualan dan perilaku pelanggan sangat membantu dalam mengevaluasi efektivitas masing-masing strategi.

Apakah teknik soft selling dan hard selling bisa diterapkan bersamaan dalam satu funnel penjualan?

Apakah teknik soft selling dan hard selling bisa diterapkan bersamaan dalam satu funnel penjualan?

Bisa. Soft selling umumnya digunakan pada tahap awal funnel untuk membangun kepercayaan, sedangkan hard selling diterapkan di tahap akhir untuk mendorong keputusan pembelian. Kombinasi keduanya dapat meningkatkan peluang closing tanpa mengorbankan pengalaman pelanggan.

Apakah karakter pelanggan berpengaruh terhadap pemilihan teknik soft selling atau hard selling?

Apakah karakter pelanggan berpengaruh terhadap pemilihan teknik soft selling atau hard selling?

Ya, karakter pelanggan sangat berpengaruh. Pelanggan yang rasional dan analitis cenderung merespons soft selling, sementara pelanggan yang impulsif atau memiliki kebutuhan mendesak lebih responsif terhadap hard selling.