7 mins read

Strategi WhatsApp Marketing di Tengah Mahalnya Fee Marketplace: Webinar Recap Qontak x Desty

Tayang
Ditulis oleh:
Strategi WhatsApp Marketing di Tengah Mahalnya Fee Marketplace: Webinar Recap Qontak x Desty
Mekari Qontak Highlights
  • Kenaikan biaya pemotongan marketplace mendorong pentingnya kepemilikan database pelanggan mandiri
  • WhatsApp menjadi channel penjualan paling efektif di Indonesia berkat penetrasi pengguna yang sangat masif
  • Penggunaan sistem CRM membantu menyatukan seluruh channel percakapan ke dalam satu dashboard terpadu
  • WhatsApp Commerce mempermudah alur belanja dari pemilihan katalog hingga transaksi dalam satu ruang chat
  • Kehadiran Agentic AI membuat proses balasan pesan dan closing otomatis berjalan nonstop selama 24 jam

Kenaikan biaya jualan di marketplace yang tak seimbang dengan angka closing menjadi persoalan utama yang dibahas dalam webinar “Auto-Closing 24/7: Kolaborasi AI Chatbot & Omnichannel Commerce Tanpa Nambah Tim CS” pada Kamis, 27 Agustus 2026. 

Dipandu oleh praktisi bisnis online Jonathan Kho (Om Botak) bersama Senior Product Manager Mekari Desty, Disty Pratiwi, dan Senior Product Manager Mekari Qontak, Hardy Santosa Sundoro, diskusi ini menegaskan satu arah baru bagi para seller

Kondisi tersebut menjadikan penerapan strategi WhatsApp marketing sebagai langkah mendesak, menggeser posisinya dari sekadar opsi alternatif menjadi kunci utama keberlanjutan bisnis secara mandiri.


Risiko Terlalu Mengandalkan Marketplace di 2026

strategi whatsapp marketing-1

Potongan Marketplace Membengkak, Margin Bersih Seller Tergerus

Pengalaman 16 tahun di industri e-commerce membuat Om Botak paham betul perubahan pola penjualan online di Indonesia. 

Menurutnya, potongan marketplace saat ini dapat menembus 35% hingga 45% dan bahkan berpotensi terus naik pada akhir tahun, baik di platform Shopee maupun TikTok.

Lonjakan biaya ini berdampak langsung pada margin. Berdasarkan diskusinya dengan sesama seller, margin bersih yang tersisa setelah dipotong pajak dan biaya operasional rata-rata di bawah 5% dari omzet. 

Angka sekecil itu pun sudah tergolong “bagus” untuk situasi pasar hari ini.

“Potongan marketplace bisa tembus 45%. Tanpa kolam sendiri dan data pelanggan, bisnis sulit punya margin bersih di atas 5%.” — Jonathan Kho (Om Botak), CEO DataPinter & Marketplace Expert

Untuk mengilustrasikan jarak yang makin lebar antara beban biaya dan sisa margin, berikut visualisasi dari pemaparan materi Om Botak:

strategi whatsapp marketing-2

Guna menjaga kelangsungan bisnis di tengah naiknya biaya iklan, sample, hingga komisi affiliate, Om Botak juga menyarankan para seller untuk menetapkan harga jual minimal 3 hingga 3,5 kali lipat dari HPP.

Data Pelanggan Dikuasai Platform: Analogi “Kolam Pemancingan Umum”

Poin krusial lain dari Om Botak adalah soal kepemilikan data pelanggan. Ia menganalogikan marketplace seperti kolam pemancingan umum berbayar. 

Seller boleh menangkap “ikan” saat terjadi transaksi, tetapi ikan tersebut wajib dikembalikan ke kolam. Sebabnya, seluruh data seperti nama, nomor kontak, hingga riwayat belanja sepenuhnya dipegang oleh platform marketplace.

Ketergantungan ini membuat seller kesulitan melakukan follow-up dan memprediksi jadwal repeat order. Dampaknya, pemilik toko terpaksa terus membakar anggaran iklan hanya untuk mendapatkan pembeli yang sama secara berulang.


Membangun “Kolam Sendiri” Lewat Strategi WhatsApp Marketing

strategi whatsapp marketing-3

Alasan WhatsApp Jadi Channel Closing Paling Efektif di Indonesia

Om Botak dan Hardy Santosa Sundoro dari Mekari Qontak sepakat bahwa WhatsApp merupakan channel paling realistis untuk membangun database pelanggan mandiri di Indonesia. 

Hampir seluruh pemilik smartphone di Indonesia memiliki akun WhatsApp. Fleksibilitas ini berbeda dengan platform seperti Telegram atau Discord yang cenderung terbatas pada segmen pengguna tertentu.

Meskipun WhatsApp menjadi channel dengan tingkat closing tercepat di pasar lokal, pengelolaannya rentan kacau saat volume pesan membengkak tanpa dukungan sistem yang terintegrasi.

4 Langkah Taktis Memulai Strategi WhatsApp Marketing

Untuk mengalihkan sebagian transaksi dari marketplace, penerapan strategi WhatsApp marketing dapat dimulai dari langkah-langkah berikut:

  • Selipkan Thank You Card di setiap paket: Cantumkan kontak WhatsApp toko serta penawaran diskon khusus untuk pembelian berikutnya di luar platform marketplace.
  • Layani transaksi skala kecil: Pemesanan satu unit barang melalui WhatsApp tetap berharga karena data pembeli langsung tersimpan di database pribadi.
  • Integrasikan toko offline (O2O2O): Manfaatkan toko fisik sebagai trust point, lalu arahkan pelanggan untuk melakukan repeat order secara praktis via WhatsApp.
  • Gunakan KOL dan affiliate mikro: Datangkan traffic organik dari luar platform tanpa bergantung penuh pada iklan berbayar, sekaligus memperkuat reputasi brand.

CRM dan Omnichannel sebagai Solusi Strategi WhatsApp Marketing

Kelola Seluruh Chat dalam Satu Dashboard

Menindaklanjuti insight dari Om Botak, Hardy Santosa Sundoro memaparkan solusi teknis Mekari Qontak dalam menjawab tantangan operasional seller

Menurutnya, penumpukan chat di berbagai platform mulai dari WhatsApp, Instagram, hingga marketplace sering kali membuat admin kewalahan dan melewatkan follow-up.

Melalui sistem CRM terintegrasi, seluruh chat dari berbagai channel masuk ke dalam satu dashboard. Hal ini tentu akan memudahkan seller dalam memantau interaksi pelanggan, mempercepat respons, dan mencegah potensi lost sales.

WhatsApp Commerce: Dari Katalog Hingga Checkout dalam Satu Chat

strategi whatsapp marketing-4

Kolaborasi Mekari Qontak dan Mekari Desty menghadirkan fitur WhatsApp Commerce yang menyatukan empat alur belanja utama langsung di dalam room chat:

  • Eksplorasi katalog: Menampilkan etalase produk di dalam chat dengan navigasi varian yang dirancang menyerupai marketplace, melengkapi keterbatasan fitur bawaan Meta.
  • Keranjang otomatis: Sistem langsung mengirimkan link checkout form begitu pelanggan menekan tombol order, didukung penyimpanan data (customer account) untuk transaksi berikutnya.
  • Proses checkout instan: Pengisian alamat pengiriman dan pembayaran selesai dalam satu link yang sama, menekan angka drop-off akibat alur yang berbelit.
  • Pelacakan pesanan: Notifikasi nomor resi beserta link pelacakan kurir dikirimkan kembali secara otomatis ke ruang chat yang sama.

“Fokus kami adalah memperpanjang Lifetime Value pelanggan. Sekali biaya akuisisi dikeluarkan, transaksi berikutnya harus bisa terjadi terus-menerus lewat WhatsApp.”— Hardy Santosa Sundoro, Senior Product Manager Mekari Qontak

Inovasi ini membuktikan bahwa strategi WhatsApp marketing bukan sekadar berkirim pesan biasa, melainkan membangun alur transaksi yang ringkas demi menjaga kenyamanan pembeli.


AI Agent: Solusi Auto-Closing 24/7 Tanpa Menambah Tim CS

strategi whatsapp marketing-5

Playbook Agen Closing

Sebelum masuk ke tahap automation secara penuh, Hardy menjelaskan pentingnya playbook kerja tim Customer Service (CS) berdasarkan status pesanan:

  • Status In Cart: Otomatis men-trigger pengiriman link checkout form.
  • Status Unpaid: Men-trigger chat reminder pembayaran secara berkala.
  • Status New Order: Mengirimkan template konfirmasi pesanan yang telah ditentukan.

Penerapan Agentic AI dalam WhatsApp Commerce

Puncak materi sesi ini menyoroti kehadiran Agentic AI di dalam ekosistem WhatsApp Commerce. Fitur cerdas ini mengambil alih tugas rutin CS seperti membagikan link checkout, mengingatkan tagihan, hingga menjawab pertanyaan ketersediaan stok secara otomatis selama 24 jam nonstop.

Sistem ini juga dilengkapi Conversion API untuk iklan Click-to-WhatsApp (CTWA). Setiap data transaksi (event purchase) akan terkirim otomatis ke Meta, membuat algoritma penargetan iklan makin presisi di waktu mendatang.

Kombinasi CRM, integrasi commerce, dan AI agent ini menjadikan strategi WhatsApp marketing lebih efisien. Seller kini dapat menangani lonjakan volume pesan tanpa harus menambah biaya operasional tim CS secara linear.


Cara Memulai Strategi WhatsApp Marketing untuk Bisnis Anda

Merangkum seluruh insight dari para narasumber, berikut panduan langkah awal yang dapat diterapkan oleh bisnis di berbagai skala:

  • Mulai kumpulkan kontak WhatsApp pelanggan dari setiap transaksi marketplace, sekecil apa pun nilainya.
  • Satukan semua channel chat (WhatsApp, Instagram, marketplace) ke satu dashboard agar tidak ada leads yang bocor.
  • Petakan posisi setiap leads dalam funnel (cold, quotation, invoice, repeat order) untuk tahu di mana titik bocornya.
  • Manfaatkan WhatsApp Katalog dan checkout form link untuk mempersingkat proses dari chat sampai bayar.
  • Rancang program retensi (broadcast reminder, diskon repeat order) untuk memperpanjang Customer Lifetime Value.
  • Evaluasi struktur markup harga agar tetap sehat di tengah kenaikan fee marketplace dan biaya iklan.

Penerapan strategi WhatsApp marketing secara konsisten melalui langkah-langkah di atas akan membantu bisnis Anda membangun aset data mandiri yang tahan terhadap perubahan kebijakan platform pihak ketiga.


Amankan Margin Bisnis Anda Bersama Mekari Qontak

Webinar “Auto-Closing 24/7: Kolaborasi AI Chatbot & Omnichannel Commerce Tanpa Nambah Tim CS” menegaskan satu hal penting: di tengah lonjakan fee marketplace yang menggerus margin, strategi WhatsApp marketing yang didukung sistem CRM dan AI Agent menjadi penentu untuk menjaga keberlanjutan bisnis online di Indonesia.

Membangun “kolam sendiri” melalui ekosistem WhatsApp memang memerlukan penataan sistem di awal. Namun, cara ini efektif guna membuat operasional bisnis Anda tidak lagi sepenuhnya bergantung pada platform pihak ketiga.

Hadir dengan solusi Omnichannel CRM dan WhatsApp Commerce, Mekari Qontak membuat tim Anda bisa mengelola chat, katalog, hingga proses checkout secara terpadu dalam satu dashboard tanpa perlu menambah CS.

Ingin mulai merapikan data operasional dan mengotomatisasi alur penjualan WhatsApp bisnis Anda? Konsultasikan kebutuhan tim Anda dan ajukan demo gratis Mekari Qontak sekarang juga untuk merasakan kemudahannya langsung.

CTA Banner-strategi whatsapp marketing

Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang Strategi WhatsApp Marketing (FAQ)

Mengapa bisnis online perlu beralih ke strategi WhatsApp marketing?

Mengapa bisnis online perlu beralih ke strategi WhatsApp marketing?

Sebab biaya potongan di marketplace makin tinggi dan platform tersebut menguasai data pembeli, sementara WhatsApp memungkinkan bisnis membangun database pelanggan mandiri.

Bagaimana cara mengalihkan pembeli dari marketplace ke WhatsApp?

Bagaimana cara mengalihkan pembeli dari marketplace ke WhatsApp?

Anda bisa menyelipkan thank you card berisi penawaran diskon khusus di dalam paket pengiriman untuk pembelian berikutnya via WhatsApp.

Apa fungsi WhatsApp Commerce yang dikembangkan Mekari Qontak dan Desty?

Apa fungsi WhatsApp Commerce yang dikembangkan Mekari Qontak dan Desty?

Fitur ini menyatukan proses penelusuran katalog, pembuatan keranjang, pengisian form checkout, pembayaran, hingga pelacakan resi langsung di dalam ruang percakapan.

Apakah adopsi AI Agent di WhatsApp berarti harus mengurangi tim CS?

Apakah adopsi AI Agent di WhatsApp berarti harus mengurangi tim CS?

Tidak, AI Agent hadir untuk mengotomatisasi tugas rutin 24 jam nonstop sehingga tim CS dapat berfokus pada penanganan pesan yang membutuhkan pendekatan personal.

Bagaimana cara mengatasi pesan pelanggan yang masuk secara bersamaan di banyak aplikasi?

Bagaimana cara mengatasi pesan pelanggan yang masuk secara bersamaan di banyak aplikasi?

Gunakan sistem Omnichannel CRM yang mengintegrasikan pesan dari WhatsApp, Instagram, dan marketplace ke dalam satu dashboard terpadu.