9 mins read

CRM untuk Bidang Kesehatan: Panduan untuk Rumah Sakit dan Klinik

Tayang
Ditulis oleh:
CRM untuk Bidang Kesehatan: Panduan untuk Rumah Sakit dan Klinik
Mekari Qontak Highlights
  • CRM untuk bidang kesehatan adalah sistem yang menyatukan data non-klinis dan operasional pasien di luar rekam medis, dirancang khusus untuk rumah sakit, klinik, dan praktisi medis.
  • Rumah sakit multispesialis, klinik rawat jalan, tim marketing, patient relation, hingga jaringan mitra rujukan sama-sama membutuhkan CRM kesehatan untuk mendukung akuisisi dan retensi pasien.
  • Penggunaan Aplikasi CRM untuk Kesehatan membantu rumah sakit dan klinik menyatukan riwayat komunikasi pasien lintas kanal dalam satu dashboard.

Rumah sakit dan klinik kini menggunakan lebih banyak kanal untuk berkomunikasi dengan pasien, dari WhatsApp, media sosial, hingga telemedicine.

Di sisi lain, SIMRS atau rekam medis elektronik (RME) tetap berfungsi untuk mengelola informasi klinis pasien tanpa secara khusus menangani hubungan pasien di luar data tersebut. Namun, sistem ini tidak dirancang sebagai sistem komunikasi utama pasien dan rumah sakit.

Artikel Mekari Qontak Blog kali ini akan membahas CRM untuk bidang kesehatan, perbedaannya dengan RME, stakeholder yang membutuhkannya, cara kerja, fitur utama hingga aspek regulasi yang perlu dipertimbangkan sebelum implementasi.

CTA Banner aplikasi crm mekari qontak untuk mempercepat closing

Apa Itu CRM untuk Kesehatan?

CRM untuk bidang kesehatan adalah sistem yang membantu rumah sakit, klinik, atau praktisi medis menyatukan data non-klinis dan operasional pasien dalam satu platform.

Berbeda dari CRM konvensional yang berfokus pada penjualan, sistem ini dirancang untuk mengelola hubungan dan komunikasi pasien di luar cakupan rekam medis.

Gartner Peer Insights membagi cakupan use case CRM kesehatan ke dalam beberapa kategori: sales-marketing, patient engagement, provider network, service, dan administrative operations.

Pembagian ini menjelaskan mengapa CRM kesehatan dipakai oleh tim yang berbeda-beda, mulai dari marketing kampanye medical check-up hingga tim yang mengelola jaringan rujukan.

Secara konsep, pendekatan ini sejalan dengan gagasan menyatukan seluruh titik kontak pelanggan dalam satu pandangan utuh.

CRM untuk Bidang Kesehatan vs RME

Rumah sakit sering menyamakan CRM kesehatan dengan RME karena keduanya sama-sama menyimpan data pasien. Padahal, kedua sistem ini punya status hukum, pengguna, dan titik integrasi yang berbeda.

Gunakan tombol panah kiri/kanan untuk menggulir secara horizontal.

Aspek PerbedaanCRM KesehatanRME
Status hukumTidak wajib secara hukumWajib sesuai Permenkes 24/2022
Titik integrasiKanal komunikasi pasien (WhatsApp, call center, web)SATUSEHAT (interoperabilitas HL7 FHIR)
Pengguna utamaTim marketing, customer service/patient relation, tim rujukanDokter, perawat, tenaga rekam medis
Fokus dataData non-klinis: histori komunikasi, preferensi, status follow-upData klinis: diagnosis, riwayat pengobatan, hasil lab
Kapan harus terhubungSaat status kunjungan pasien perlu memicu follow-up otomatisSaat CRM butuh konteks klinis dasar untuk personalisasi komunikasi non-medis
Risiko jika disamakanData komunikasi tercecer, SLA follow-up tidak terukurKewajiban interoperabilitas SATUSEHAT terabaikan, potensi sanksi regulasi

Kedua sistem sebaiknya saling bertukar data ringkasan status pasien, bukan saling menggantikan fungsi.

Kementerian Kesehatan mewajibkan interoperabilitas RME berbasis HL7 FHIR ke SATUSEHAT, sedangkan CRM tetap berdiri di luar kewajiban itu untuk mengelola sisi komunikasi.

Pengguna CRM untuk Bidang Kesehatan untuk Akuisisi dan Retensi

Kebutuhan CRM kesehatan berbeda berdasarkan fungsi dan skala operasional fasilitas kesehatan. Berikut lima kelompok yang dapat memanfaatkannya.

1. Rumah Sakit Multispesialis dan Jaringan Cabang

Rumah sakit dengan banyak spesialisasi atau cabang membutuhkan visibilitas terhadap interaksi pasien secara terpusat. Tanpa dashboard yang sama, tim di masing-masing lokasi dapat kesulitan mengetahui riwayat komunikasi atau kunjungan ketika pasien berpindah cabang.

CRM membantu menghubungkan data interaksi tersebut sehingga proses akuisisi dan retensi dapat dikelola secara lebih konsisten di berbagai lokasi.

2. Klinik Rawat Jalan dan Pusat Diagnostik dengan Volume Kunjungan Tinggi

Fasilitas dengan jumlah kunjungan tinggi membutuhkan mekanisme otomatis untuk mengelola jadwal dan pengingat pasien. Jika seluruh pengingat dilakukan secara manual, staf administrasi berisiko melewatkan follow-up, terutama ketika volume komunikasi meningkat.

Automasi dapat membantu memastikan pengingat kontrol atau janji temu dikirim sesuai workflow yang telah ditentukan sehingga risiko no-show dapat ditekan.

3. Tim Marketing yang Mengelola Kampanye Medical Check-Up dan Skrining

Tim marketing membutuhkan lebih dari sekadar data impresi dan klik untuk menilai keberhasilan kampanye. Mereka perlu mengetahui apakah aktivitas marketing benar-benar menghasilkan kunjungan pasien.

Dengan pelacakan dari sumber kampanye hingga kunjungan aktual, tim dapat mengevaluasi channel yang menghasilkan pasien dan mengalokasikan anggaran secara lebih terukur.

4. Tim Customer Service atau Patient Relation

Customer service dan patient relation membutuhkan visibilitas terhadap kecepatan respons serta penyelesaian keluhan pasien. CRM membantu mencatat SLA dan status setiap kasus sehingga keluhan tidak berhenti tanpa tindak lanjut.

Data tersebut juga memberikan dasar bagi manajemen untuk mengevaluasi kualitas layanan secara lebih objektif.

5. Jaringan Asuransi dan Mitra Rujukan

Rumah sakit yang bekerja sama dengan asuransi atau mitra rujukan perlu mengetahui dari mana pasien berasal dan bagaimana performa masing-masing mitra.

Dengan pencatatan sumber rujukan, rumah sakit dapat melihat mitra yang paling banyak menghasilkan pasien baru dan menggunakan data tersebut untuk mengelola pipeline rujukan.


Cara Kerja CRM untuk Layanan Kesehatan untuk Follow-up Konsisten

CRM kesehatan bekerja melalui rangkaian tahap yang memastikan setiap kontak pasien tertangani tanpa terlewat. Berikut lima tahap utamanya.

1. Menangkap Kontak Pertama Lintas Kanal

Sistem CRM menggabungkan titik masuk dari WhatsApp, call center, dan website ke dalam platform omnichannel.

Dengan demikian, percakapan dari kanal yang berbeda dapat dikelola dalam satu sistem dan mengurangi risiko prospek pasien terlewat.

2. Melakukan Segmentasi dan Menentukan Prioritas

Data non-klinis bisa digunakan untuk melakukan segmentasi dan menentukan prioritas penanganan berdasarkan histori interaksi atau kunjungan.

Ketika jumlah pesan meningkat, tim dapat lebih mudah menentukan pasien yang perlu ditangani terlebih dahulu.

3. Mengotomatiskan Pengingat Janji Temu dan Follow-up

Workflow otomatis dapat menangani aktivitas rutin seperti pengingat jadwal kontrol atau follow-up setelah kunjungan. Proses ini mengurangi ketergantungan pada ingatan staf administrasi untuk mengirim pesan secara manual.

4. Mengalihkan Kasus Sensitif ke Agen Manusia

Automasi tetap membutuhkan batas yang jelas. Ketika percakapan menyangkut isu klinis atau keluhan yang lebih serius, sistem dapat mengalihkan penanganannya kepada staf yang memiliki kompetensi sesuai.

Pendekatan ini menjaga efisiensi automasi tanpa menghilangkan peran manusia pada situasi yang membutuhkan penanganan lebih tepat.

5. Memantau KPI Operasional melalui Dashboard

Dashboard laporan CRM dapat menampilkan metrik seperti SLA, konversi, dan retensi untuk membantu manajemen mengevaluasi performa secara berkala.

Pendekatan berbasis data juga membantu organisasi memahami pola interaksi pasien dan meningkatkan pengalaman layanan secara lebih terukur.

McKinsey & Company mencatat bahwa pengalaman yang lebih personal dapat membantu organisasi kesehatan membangun kembali kepercayaan konsumen.


Manfaat CRM untuk Bidang Kesehatan untuk Retensi dan Efisiensi Biaya

Manfaat CRM kesehatan dapat dilihat dari sisi retensi pasien maupun efisiensi biaya operasional. Berikut lima manfaat utama yang didukung data.

1. Pasien Puas 28% Lebih Kecil Kemungkinan Pindah Penyedia Layanan

Survei McKinsey & Company terhadap lebih dari 3.000 konsumen kesehatan di Amerika Serikat menemukan bahwa pasien yang puas memiliki kemungkinan 28% lebih rendah untuk berpindah penyedia layanan.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman pasien memiliki hubungan erat dengan retensi. Pengelolaan komunikasi dan follow-up yang konsisten dapat menjadi bagian penting dari strategi mempertahankan pasien.

2. Revenue Dapat Naik hingga 20% dan Cost-to-Serve Turun hingga 30%

Survei McKinsey & Company yang sama terhadap lebih dari 3.000 konsumen kesehatan juga menunjukkan bahwa revenue penyedia layanan kesehatan dapat meningkat hingga 20%, sedangkan cost-to-serve dapat turun hingga 30% dalam lima tahun ketika pengalaman pasien diperbaiki secara sistematis.

Dampak tersebut tidak semata berasal dari peningkatan anggaran marketing. Penyelarasan data dan perbaikan pengalaman pasien menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi sekaligus nilai layanan.

3. Beban Administratif Berkurang tanpa Penambahan Headcount secara Linear

Ketika volume komunikasi pasien meningkat, automasi workflow memungkinkan tim menangani lebih banyak aktivitas tanpa harus menambah staf secara proporsional.

Aktivitas rutin seperti pengingat dan follow-up dapat dijalankan berdasarkan workflow yang telah ditentukan. Staf kemudian dapat mengalokasikan waktu untuk kasus yang membutuhkan penanganan langsung.

4. Kepercayaan Pasien Dibangun melalui Konsistensi Layanan

Riset Kusumahwardani, Tresnati, & Respati dalam Jurnal Syntax Literate menemukan hubungan antara implementasi CRM dan kepercayaan pasien di RS Hermina Pasteur Bandung.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa konsistensi dalam memberikan layanan dapat berperan dalam membangun kepercayaan pasien, bukan sekadar mengandalkan komunikasi promosi.

5. ROI Kampanye Akuisisi Lebih Terukur

CRM memungkinkan tim marketing menelusuri kampanye hingga hasil akhirnya, termasuk apakah interaksi dari kampanye menghasilkan kunjungan pasien.

Dengan visibilitas tersebut, tim Anda dapat membandingkan efektivitas masing-masing channel dan mengarahkan anggaran ke sumber akuisisi yang menghasilkan pasien baru.


Fitur Utama CRM untuk Bidang Kesehatan untuk Kualitas Implementasi

Kualitas implementasi CRM kesehatan sangat bergantung pada fitur yang tersedia di dalam sistem. Berikut fitur utama yang perlu dipastikan ada:

  • Keamanan data: CRM perlu memiliki kontrol keamanan yang memadai dan mendukung kebutuhan audit UU PDP, dengan standar seperti ISO 27001 sebagai salah satu acuan keamanan informasi kesehatan.
  • Integrasi API/HL7 FHIR: Integrasi dengan SIMRS dan SATUSEHAT membantu pertukaran data yang diperlukan tanpa mengandalkan input manual berulang.
  • Omnichannel: Menyatukan riwayat percakapan dari berbagai kanal agar agen tetap memiliki konteks ketika pasien berpindah kanal.
  • Chatbot AI: Mengelola interaksi dan pertanyaan rutin pasien secara otomatis selama 24/7, dari informasi jadwal dokter, lokasi fasilitas kesehatan, hingga penjawab FAQ dasar tanpa jeda.
  • AI Agent: Kemampuan otonom untuk mengeksekusi tugas lintas sistem secara mandiri, seperti memperbarui status kunjungan, mengelola pengingat kontrol otomatis, hingga melakukan eskalasi cerdas ke staf medis atau customer service manusia ketika mendeteksi kasus sensitif atau kompleks.
  • Workflow automation: Mengotomatisasi penjadwalan, pengingat, dan proses eskalasi sehingga aktivitas rutin tidak bergantung pada ingatan admin.
  • Analitik dan dashboard KPI: Menampilkan metrik seperti SLA dan retensi untuk membantu manajemen mengambil keputusan berdasarkan data.
  • Manajemen rujukan dan mitra: Mencatat sumber pasien serta performa mitra rujukan untuk membantu rumah sakit mengoptimalkan jaringan akuisisi pasien.

Kesiapan CRM Bidang Kesehatan untuk SATUSEHAT dan UU PDP

Sebelum memilih CRM kesehatan, sebaiknya Anda perlu memahami batas kewajiban hukum yang berlaku. Berikut empat hal yang wajib diperhatikan.

1. Kewajiban Interoperabilitas RME ke SATUSEHAT Tidak Otomatis Berlaku untuk CRM

Kewajiban integrasi dengan SATUSEHAT berlaku untuk RME, bukan CRM kesehatan. Namun, kedua sistem tetap dapat terhubung untuk bertukar ringkasan status pasien yang diperlukan agar komunikasi non-klinis tetap relevan.

Artinya, CRM tidak menggantikan RME maupun kewajiban interoperabilitasnya. CRM berperan pada sisi komunikasi, engagement, dan follow-up pasien.

2. Data Kesehatan adalah Data Pribadi Spesifik dalam UU PDP

UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi mengategorikan data kesehatan sebagai data pribadi spesifik.

Pengelolaannya membawa konsekuensi tambahan, termasuk kebutuhan consent eksplisit, kewajiban pemberitahuan ketika terjadi pelanggaran data dalam 3×24 jam, serta kemungkinan penunjukan Data Protection Officer (DPO).

Dengan demikian, aspek perlindungan data perlu menjadi bagian dari evaluasi CRM sejak tahap pemilihan vendor.

3. Lakukan Due Diligence Vendor sebelum Menandatangani Kontrak

Sebelum memilih vendor CRM, periksa bagaimana sistem mengelola data pasien. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi lokasi penyimpanan server, hak akses berbasis peran, audit trail, dan kebijakan retensi data.

ISO 27001 dapat digunakan sebagai salah satu referensi ketika organisasi mengevaluasi kontrol keamanan vendor.

4. Kelalaian Pengelolaan Data Dapat Berujung pada Sanksi

UU PDP mengatur sanksi administratif hingga pidana bagi pihak yang lalai dalam melindungi data pribadi, termasuk data kesehatan sebagai data pribadi spesifik.

Anda perlu mengevaluasi keamanan CRM karena risikonya berkaitan dengan data pasien dan kepatuhan organisasi. Pengambil keputusan di level manajemen dan direksi juga perlu memahami implikasinya.


Kelola CRM untuk Bidang Kesehatan dengan Mekari Qontak!

Tantangan CRM kesehatan bukan hanya soal menambah kanal komunikasi karena memastikan data dan riwayat interaksi pasien tetap terhubung juga penting.

Ketika informasi tersebut tersebar di berbagai kanal, tim Anda bisa kehilangan konteks dan kesulitan memastikan setiap follow-up berjalan sesuai SLA.

Mekari Qontak sebagai AI Customer Engagement Platform membantu rumah sakit dan klinik mengelola percakapan WhatsApp Business API, media sosial, dan call center dalam satu dashboard omnichannel.

Anda juga bisa memanfaatkan automasi untuk pengingat janji temu serta dashboard untuk memantau SLA operasional. Solusi ini bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan fasilitas kesehatan, dari rumah sakit multispesialis dengan banyak cabang hingga klinik rawat jalan.

Pelajari lebih lanjut Aplikasi CRM Mekari Qontak untuk Kesehatan atau konsultasikan kebutuhan bisnis Anda dengan tim ahli kami dan dapatkan uji coba gratis sekarang.

CTA Banner aplikasi crm mekari qontak untuk mempercepat closing
Kategori : CRM

Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang

Apa perbedaan CRM untuk bidang kesehatan dengan rekam medis elektronik (RME)?

Apa perbedaan CRM untuk bidang kesehatan dengan rekam medis elektronik (RME)?

CRM kesehatan mengelola data non-klinis dan komunikasi pasien lintas kanal, sedangkan RME mencatat riwayat klinis dan wajib terhubung ke SATUSEHAT sesuai Permenkes 24/2022.

Apakah CRM untuk bidang kesehatan wajib terintegrasi dengan SATUSEHAT?

Apakah CRM untuk bidang kesehatan wajib terintegrasi dengan SATUSEHAT?

CRM kesehatan tidak diwajibkan terhubung ke SATUSEHAT karena kewajiban tersebut hanya berlaku untuk RME. Meski begitu, integrasi keduanya tetap disarankan agar komunikasi pasien tetap relevan dengan status klinis terbaru.

Bagaimana CRM bidang kesehatan menjaga kepatuhan terhadap UU PDP?

Bagaimana CRM bidang kesehatan menjaga kepatuhan terhadap UU PDP?

CRM kesehatan menjaga kepatuhan dengan menerapkan consent eksplisit, hak akses berbasis peran, dan audit trail atas setiap akses data pasien. Vendor yang matang biasanya juga mengacu pada standar keamanan seperti ISO 27001 untuk memenuhi ketentuan tersebut.

Apa saja fitur wajib yang harus ada dalam CRM untuk bidang kesehatan?

Apa saja fitur wajib yang harus ada dalam CRM untuk bidang kesehatan?

Fitur wajib mencakup integrasi API/HL7 FHIR ke SIMRS, omnichannel, automasi workflow, serta dashboard analitik KPI operasional. Kelengkapan fitur ini menentukan seberapa jauh sistem dapat mendukung follow-up pasien secara konsisten.

Bagaimana cara mengukur ROI dari CRM bidang kesehatan?

Bagaimana cara mengukur ROI dari CRM bidang kesehatan?

ROI dapat diukur dari kenaikan tingkat kehadiran janji temu, penurunan waktu respons SLA, dan konversi kampanye akuisisi menjadi kunjungan aktual. Rumah sakit juga bisa membandingkan biaya operasional sebelum dan sesudah automasi workflow diterapkan.