
- Biaya operasional adalah pengeluaran berkala perusahaan untuk mendukung aktivitas produksi dan administrasi, penting untuk pencatatan akurat agar bisnis tetap menguntungkan.
- Komponen biaya operasional meliputi Biaya Tetap, Biaya Variabel, Biaya Semi Variabel, Biaya Penyusutan (Depreciation).
- Cara menghitung biaya operasional bisnis bisa menggunakan rumus: Biaya Operasional = Biaya Produksi + Pengeluaran Operasional.
- Strategi efisiensi biaya operasional yang berkelanjutan, seperti pemanfaatan teknologi CRM dan automasi.
Agar bisnis berjalan lancar, perusahaan Anda perlu mengelola biaya operasional dengan efisien. Pengeluaran ini mencakup kebutuhan harian, seperti produksi dan pengelolaan sumber daya yang harus dihitung dengan cermat agar bisnis tetap untung.Â
Agar Anda lebih memahami seputar biaya operasional bisnis, dalam artikel ini Mekari Qontak Blog akan mengupas tuntas tentang biaya operasional, dari komponen, cara menghitung hingga contoh biayanya di berbagai industri bisnis.

Apa itu Biaya Operasional?
Biaya operasional (operating expenses atau OPEX) adalah pengeluaran rutin dan berkelanjutan yang dikeluarkan perusahaan untuk menunjang aktivitas bisnis sehari-hari agar tetap berjalan optimal.Â
Biaya ini mencakup berbagai kebutuhan seperti gaji karyawan, sewa tempat usaha, utilitas (listrik dan air), serta biaya pemasaran, namun tidak termasuk harga pokok penjualan (HPP).
Biaya operasional sangat penting dalam menentukan efisiensi dan profitabilitas suatu bisnis, karena mencerminkan sumber daya yang digunakan untuk menjaga operasional tetap berjalan.
Dalam konteks akuntansi, hal ini seringkali menjadi bagian dari laporan laba rugi dan membantu manajemen dalam pengambilan keputusan strategis.
Jenis-Jenis Komponen Biaya Operasional
Memahami perbedaan antara komponen tetap, variabel, dan semi variabel adalah kunci agar manajemen dapat merespons perubahan kondisi bisnis dengan lebih tepat.
1. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap adalah pengeluaran yang nominalnya tidak berubah meskipun volume produksi atau penjualan naik turun. Bisnis Anda tetap harus membayarnya sesuai jumlah dan jadwal yang telah disepakati, terlepas dari hasil kinerja bisnis pada periode tersebut.
Karakteristik utama biaya tetap adalah dapat diprediksi. Ini memudahkan perencanaan arus kas karena manajemen tahu persis berapa yang harus disiapkan setiap bulan.Â
Namun, biaya tetap yang terlalu besar bisa menjadi beban saat pendapatan turun drastis, terutama di bisnis yang memiliki siklus musiman.
Contoh biaya tetap dalam operasional bisnis:
- Gaji karyawan tetap dan tunjangan bulanan
- Biaya sewa kantor, gudang, atau fasilitas produksi
- Premi asuransi aset dan karyawan
- Biaya keamanan dan kebersihan gedung
- Langganan software atau lisensi tahunan yang jumlahnya tidak bergantung pada penggunaan
2. Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya variabel adalah pengeluaran yang berubah secara proporsional mengikuti tingkat aktivitas bisnis, baik produksi maupun penjualan. Ketika volume produksi naik, biaya ini ikut naik. Sebaliknya, ketika bisnis lesu, biaya ini otomatis turun.
Dari sisi manajemen, biaya variabel memberikan fleksibilitas. Namun jika tidak dipantau, biaya ini bisa membengkak tanpa disadari, khususnya pada bisnis yang mengalami pertumbuhan cepat tanpa kontrol pengeluaran yang ketat.
Contoh biaya variabel dalam operasional bisnis:
- Bahan baku dan bahan penolong produksi
- Komisi penjualan berdasarkan persentase omzet
- Biaya pengiriman dan logistik per transaksi
- Biaya listrik dan air yang terkait langsung dengan proses produksi
- Biaya tenaga kerja harian atau kontrak berdasarkan output
3. Biaya Semi Variabel (Semi Variable Cost)
Biaya semi variabel memiliki dua komponen sekaligus, yaitu bagian tetap yang selalu ada dan bagian variabel yang bergantung pada tingkat aktivitas.Â
Hal ini menjadikan biaya semi variabel paling kompleks untuk dianggarkan karena tidak sepenuhnya dapat diprediksi seperti biaya tetap, tetapi juga tidak sefleksibel biaya variabel murni.
Contoh biaya semi variabel:
- Gaji pokok ditambah lembur (gaji tetap + lembur variabel berdasarkan jam kerja tambahan)
- Tagihan telepon dan internet (biaya langganan tetap + biaya penggunaan data tambahan)
- Biaya perawatan mesin (servis rutin tetap + perbaikan tambahan saat terjadi kerusakan)
- Biaya utilitas pabrik (biaya minimum tetap + konsumsi energi sesuai kapasitas produksi)
- Biaya distribusi (biaya armada tetap + ongkos pengiriman per volume)
4. Biaya Penyusutan (Depreciation)
Biaya penyusutan adalah penurunan nilai aset tetap yang digunakan dalam operasional bisnis secara bertahap setiap periode.Â
Meskipun bukan pengeluaran kas langsung, penyusutan tetap dicatat sebagai biaya operasional karena mencerminkan konsumsi manfaat ekonomi dari aset tersebut.
Aset yang mengalami penyusutan antara lain kendaraan operasional, mesin produksi, komputer dan peralatan kantor, serta infrastruktur fisik lainnya. Pencatatan penyusutan yang akurat penting untuk menghindari distorsi dalam laporan laba rugi.
Perbandingan Biaya Operasional vs Biaya Non-Operasional
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam penyusunan laporan keuangan adalah mencampurkan biaya operasional dengan biaya non-operasional.Â
Keduanya memang sama-sama dicatat sebagai pengeluaran, tetapi posisi dan dampaknya dalam laporan laba rugi berbeda.
Biaya non-operasional adalah pengeluaran yang timbul di luar aktivitas pokok bisnis. Nilainya cenderung lebih kecil dan tidak selalu terjadi setiap periode.Â
Contohnya: biaya bunga pinjaman yang dibayarkan kepada lembaga keuangan, biaya sewa aset yang dipinjam dari pihak lain secara tidak rutin, serta kerugian yang timbul dari penjualan aset tetap di bawah nilai bukunya.
Gunakan tombol panah kiri/kanan untuk menggulir secara horizontal.
| Aspek Perbandingan | Biaya Operasional (OPEX) | Biaya Non-Operasional |
|---|---|---|
| Definisi | Pengeluaran rutin untuk aktivitas bisnis utama | Pengeluaran di luar aktivitas pokok bisnis |
| Sifat | Berulang setiap periode | Tidak selalu terjadi setiap periode |
| Contoh | Gaji, sewa kantor, utilitas, pemasaran | Bunga pinjaman, sewa aset pihak lain, kerugian penjualan aset |
| Dampak ke Laba | Langsung mempengaruhi laba operasional | Mempengaruhi laba bersih setelah laba operasional |
| Posisi di Laporan Keuangan | Laporan laba rugi (bagian beban operasional) | Laporan laba rugi (bagian beban lain-lain) |
Pentingnya Biaya Operasional bagi Manajemen Bisnis
Biaya operasional menjadi cerminan langsung dari efisiensi operasional bisnis. Setidaknya ada lima alasan mengapa manajemen perlu memahaminya dengan serius, seperti berikut ini.
- Menentukan profitabilitas riil bisnis. Makin tinggi biaya operasional tanpa diimbangi pertumbuhan pendapatan, makin kecil margin yang tersisa untuk pertumbuhan.
- Dasar pengambilan keputusan strategis. Data biaya operasional yang akurat membantu manajemen memutuskan apakah perlu menambah staf, mengotomasi proses, atau justru menutup lini bisnis tertentu.
- Alat evaluasi kinerja per divisi. Dengan memantau biaya operasional per departemen, manajemen dapat mengidentifikasi area yang boros dan yang sudah efisien.
- Penetapan harga produk atau layanan. Pemahaman terhadap biaya operasional memungkinkan penetapan harga yang kompetitif sekaligus tetap menguntungkan.
- Perencanaan anggaran yang realistis. biaya operasional historis menjadi acuan paling akurat untuk menyusun anggaran periode berikutnya.
Contoh Biaya Operasional Berdasarkan Industri Bisnis
Struktur biaya operasional setiap industri berbeda-beda, bergantung pada model bisnis, skala operasi, dan intensitas tenaga kerja atau teknologi yang digunakan. Berikut gambaran biaya operasional dari beberapa sektor utama.
1. E-commerce dan Retail
Untuk bisnis e-commerce, biaya logistik dan pengemasan sering kali menjadi komponen biaya operasional terbesar—bahkan bisa mencapai 15–25% dari pendapatan.Â
Manajemen yang cermat terhadap biaya per pengiriman, tingkat retur, dan efisiensi pergudangan menjadi kunci menjaga margin tetap sehat.
Di sisi lain, biaya iklan digital di platform seperti Meta Ads dan Google Ads juga perlu dipantau dengan sangat ketat. Tanpa analisis Return on Ad Spend (ROAS) yang memadai, pengeluaran iklan bisa membengkak tanpa menghasilkan konversi yang sepadan.
2. Perbankan dan Jasa Keuangan
Industri perbankan dan jasa keuangan memiliki karakteristik biaya operasional yang unik karena porsi biaya kepatuhan regulasi (compliance) terus meningkat setiap tahun, seiring dengan perubahan regulasi dari OJK dan BI.Â
Selain itu, investasi dalam keamanan siber dan infrastruktur teknologi informasi juga menjadi komponen biaya yang signifikan.
Bagi bank digital atau fintech, biaya teknologi, seperti infrastruktur cloud, lisensi sistem core banking, dan pengembangan aplikasi bisa menjadi pos OPEX terbesar setelah gaji karyawan.
3. Manufaktur
Di sektor manufaktur, komponen biaya produksi (COGS) biasanya mendominasi total biaya operasional. Fluktuasi harga bahan baku, terutama komoditas yang harganya ditentukan pasar global, menjadi risiko utama.Â
Perusahaan manufaktur yang baik menggunakan strategi hedging atau kontrak pembelian jangka panjang untuk menstabilkan biaya ini.
Selain bahan baku, overhead pabrik yang mencakup biaya penyusutan mesin, perawatan rutin, dan konsumsi energi juga perlu dikendalikan melalui program preventive maintenance yang terstruktur.
4. Bisnis F&B dan Hospitality
Industri makanan dan minuman serta perhotelan dikenal memiliki margin yang tipis, Dengan kondisi seperti ini, kontrol terhadap biaya bahan makanan (food cost), gaji karyawan paruh waktu, dan waste management menjadi sangat kritis.
Bisnis F&B yang sukses umumnya memantau food cost ratio secara mingguan, bukan bulanan. Mereka juga memanfaatkan data penjualan historis untuk memperkirakan kebutuhan bahan baku agar tidak terjadi pemborosan atau kehabisan stok.
5. Logistik dan Distribusi
Untuk perusahaan logistik, biaya bahan bakar kendaraan bisa menjadi 30–40% dari total biaya operasional. Fluktuasi harga BBM yang tidak terduga membuat perencanaan anggaran menjadi tantangan bagi bisnis di sektor ini.Â
Banyak perusahaan logistik besar mulai beralih ke armada kendaraan listrik atau menggunakan sistem rute optimasi berbasis AI untuk menekan konsumsi BBM.
Cara Menghitung Biaya Operasional dengan Tepat
Menghitung biaya operasional sebenarnya tidak rumit, asalkan semua komponen pengeluaran sudah teridentifikasi dengan baik. Secara umum, ada dua pendekatan yang digunakan, yaitu sebagai berikut.
1. Rumus Dasar Biaya Operasional
Biaya Operasional = Biaya Produksi (HPP) + Pengeluaran Operasional Tambahan
Catatan:
- Biaya Produksi: meliputi bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik yang terkait langsung dengan proses menghasilkan produk atau layanan.
- Pengeluaran Operasional Tambahan: mencakup biaya penjualan (sales expenses), biaya administrasi dan umum (general & administrative expenses), serta biaya pemasaran dan distribusi.
2. Contoh Perhitungan Biaya Operasional Bulanan
Berikut ilustrasi sederhana untuk bisnis distribusi skala menengah dengan 25 karyawan:
Gunakan tombol panah kiri/kanan untuk menggulir secara horizontal.
| Komponen Biaya | Nominal |
|---|---|
| Biaya Produksi / HPP (bahan baku + tenaga kerja langsung) | Rp 1.800.000.000 |
| Gaji karyawan tetap (25 orang) | Rp 500.000.000 |
| Sewa gudang dan kantor | Rp 85.000.000 |
| Biaya logistik dan pengiriman (variabel) | Rp 120.000.000 |
| Biaya pemasaran digital dan komisi sales | Rp 75.000.000 |
| Utilitas (listrik, air, internet) | Rp 30.000.000 |
| Biaya administrasi dan perlengkapan kantor | Rp 20.000.000 |
| Total Biaya Operasional Bulanan | Rp 2.630.000.000 |
Strategi Mengelola dan Efisiensi Biaya Operasional Secara Berkelanjutan
Berikut ini beberapa strategi praktis dalam mengelola dan efisiensi biaya operasional secara berkelanjutan.
1. Lakukan Audit Pengeluaran Secara Berkala
Banyak perusahaan menemukan pemborosan signifikan setelah melakukan audit pengeluaran yang serius, dari langganan software yang tidak digunakan, kontrak vendor yang sudah tidak bernilai hingga proses manual yang bisa diautomasi.Â
Idealnya, audit pengeluaran dilakukan setidaknya setiap kuartal, bukan hanya saat akhir tahun. Fokuskan audit pada pos-pos yang memiliki tren kenaikan konsisten selama tiga bulan terakhir karena biasanya di sinilah pemborosan tersembunyi paling sering terjadi.
2. Pisahkan Anggaran Per Departemen dengan Target yang Jelas
Tanpa anggaran per departemen yang jelas, setiap kepala divisi cenderung tidak memiliki rasa kepemilikan terhadap efisiensi pengeluaran.Â
Dengan menetapkan batas anggaran yang terukur disertai target kinerja yang spesifik, manajemen menciptakan akuntabilitas yang mendorong setiap tim untuk lebih selektif dalam menggunakan sumber daya.
Pola yang bekerja dengan baik adalah zero-based budgeting, yaitu setiap pos anggaran harus dijustifikasi ulang dari nol setiap periode.
3. Optimalkan Proses dengan Teknologi dan Otomasi
Investasi pada teknologi yang tepat, seperti CRM, sistem otomasi pemasaran, dan platform manajemen pelanggan bisa terasa seperti menambah biaya di awal.Â
Namun dalam jangka menengah, teknologi ini justru menekan biaya tenaga kerja untuk tugas-tugas berulang, mempercepat siklus penjualan, dan meningkatkan kepuasan pelanggan tanpa perlu menambah agen baru.
Sebagai contoh, tim customer service yang menggunakan chatbot untuk menangani pertanyaan rutin bisa mengalihkan perhatiannya ke kasus yang lebih kompleks.
4. Negosiasikan Ulang Kontrak Vendor Secara Rutin
Banyak perusahaan terjebak dalam kontrak vendor yang harganya sudah tidak kompetitif lagi.Â
Lakukan evaluasi vendor setidaknya satu kali per tahun, bandingkan dengan penawaran pasar terkini, dan gunakan data volume pembelian sebagai leverage negosiasi untuk mendapatkan harga yang lebih baik.
5. Pantau Rasio Biaya Operasional Secara Real-time
Anda bisa menggunakan dashboard keuangan atau sistem pelaporan real-time agar setiap manajer bisa memantau pengeluaran departemennya kapan saja.
Dengan data yang tersedia secara real-time, keputusan korektif bisa diambil jauh lebih cepat, bahkan sebelum pengeluaran melampaui batas anggaran yang ditetapkan.
Kelola Biaya Operasional Lebih Efisien dengan Mekari Qontak
Dengan demikian, biaya operasional memegang peranan penting dalam kegiatan operasional perusahaan. Maka dari itu, perusahaan harus bisa mengelola pembiayaan operasional dan non operasional dengan baik.
Untuk mempermudah dalam menghitung biaya tersebut, Anda bisa mempertimbangkan untuk menggunakan aplikasi CRM dari Mekari Qontak. Aplikasi CRM ini dapat mencatat semua interaksi bisnis dalam satu database terpusat dari berbagai sumber data.
Dengan data yang terpusat, Mekari Qontak membuat manajemen dapat mengidentifikasi mana proses yang boros dan mana yang sudah optimal, tanpa harus menunggu laporan akhir bulan.
Selain itu, Aplikasi CRM Mekari Qontak juga sudah berbasis AI, dilengkapi dengan Chatbot AI, integrasi omnichannel, automasi workflow hingga follow up prospek otomatis yang membuat operasional bisnis menjadi lebih efisien.
Konsultasikan kebutuhan bisnis Anda bersama tim ahli Mekari Qontak dan dapatkan uji coba gratis Mekari Qontak sekarang!

Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang Biaya Operasional (FAQ)
Apakah biaya operasional bisa dikurangi tanpa menurunkan kualitas operasional bisnis?
Apakah biaya operasional bisa dikurangi tanpa menurunkan kualitas operasional bisnis?
Biaya operasional dapat dikurangi tanpa menurunkan kualitas bisnis apabila perusahaan melakukan efisiensi.
Contohnya, dengan mengoptimalkan proses kerja, mengurangi pemborosan, memanfaatkan teknologi otomatisasi, serta mengevaluasi vendor atau sistem kerja yang tidak lagi efektif.
Bagaimana cara menentukan batas ideal biaya operasional agar bisnis tetap sehat?
Bagaimana cara menentukan batas ideal biaya operasional agar bisnis tetap sehat?
Batas ideal biaya operasional biasanya ditentukan dengan membandingkannya terhadap pendapatan atau omzet perusahaan.
Rasio biaya operasional yang sehat berbeda-beda tergantung industri, namun secara umum perusahaan perlu memastikan bahwa pertumbuhan biaya tidak lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan.
Bagaimana cara memantau biaya operasional secara real-time dalam bisnis modern?
Bagaimana cara memantau biaya operasional secara real-time dalam bisnis modern?
Bisnis Anda dapat memantau biaya operasional secara real-time dengan menggunakan software akuntansi, ERP, atau aplikasi CRM seperti dari Mekari Qontak.
Sistem ini memungkinkan pencatatan otomatis, pelacakan pengeluaran, serta penyajian laporan keuangan secara instan.
Apa kesalahan paling umum yang dilakukan bisnis dalam mengelola biaya operasional?
Apa kesalahan paling umum yang dilakukan bisnis dalam mengelola biaya operasional?
Kesalahan paling umum adalah tidak memisahkan biaya berdasarkan kategori dan fungsi bisnis.
Selain itu, pengambilan keputusan sering dilakukan tanpa data yang akurat. Hal ini membuat pengendalian biaya menjadi tidak efektif.
Apa saja contoh biaya non operasional?
Apa saja contoh biaya non operasional?
Berikut ini beberapa contoh biaya non operasional:
- Biaya Bunga Pinjaman (Interest Expense)
- Biaya Sewa Aset dari Pihak Lain
- Biaya Kerugian Penjualan Aset (Loss on Asset Disposal)
- Kerugian Selisih Kurs
- Biaya Administrasi Bank
- Biaya Administrasi Bank
- Kerugian Bencana atau Kehilangan Aset