5 mins read

Conversational Commerce: Cara Membuat Alur Penjualan via Chat untuk Bisnis

Tayang
Ditulis oleh:
Conversational Commerce: Cara Membuat Alur Penjualan via Chat untuk Bisnis
Mekari Qontak Highlights
  • strategi percakapan e-commerce dua arah langsung, memungkinkan pelanggan bertanya, memilih produk, dan menyelesaikan pembayaran di dalam satu alur percakapan.
  • Tahap yang paling sering terlewat saat membuatnya adalah izin kontak (opt-in), pemilihan jenis pesan yang memengaruhi biaya, dan pengalihan ke agen.
  • Platform conversational commerce Mekari Qontak menyatukan katalog WhatsApp, marketplace, chatbot AI, dan data pelanggan CRM dalam satu dashboard untuk respon pelanggan yang cepat.
Riset SleekFlow dalam detikInet menemukan bahwa 81% konsumen Indonesia memilih WhatsApp saat menghubungi bisnis. Riset yang sama mencatat 46% konsumen kehilangan minat bila pesan tidak dibalas dalam lima menit.

Artinya, percakapan kini ikut menentukan hasil penjualan. Tim yang membalas secara manual dan terpisah dari CRM mudah kehilangan konteks, lalu kehilangan pembeli.

Conversational commerce menjawab masalah ini dengan memindahkan proses belanja ke dalam percakapan. Namun alur yang tidak dirancang justru menambah biaya dan risiko kepatuhan.

Dalam artikel ini, Mekari Qontak Blog akan membahas definisi, manfaat, jenis, enam langkah membuat conversational commerce, serta cara mengukur hasilnya.

Chatbot AI Mekari Qontak membantu bisnis meningkatkan respon pelanggan dengan otomatisasi, mengurangi risiko kehilangan pelanggan ke kompetitor.

Apa Itu Conversational Commerce?

Conversational commerce merupakan strategi belanja di e-commerce yang mengandalkan komunikasi dua arah secara langsung antara penjual dan pembeli.

Percakapan itu berlangsung di kanal seperti aplikasi pesan instan, aplikasi live chat, atau asisten suara (voice assistant). Konsumen bisa bertanya, memilih barang, hingga menyelesaikan transaksi saat itu juga secara praktis.

Model ini berbeda dari e-commerce biasa, yang mengarahkan pelanggan mengisi keranjang dan formulir di halaman checkout.

Model ini juga berbeda dari chatbot, karena chatbot hanyalah alat, sedangkan conversational commerce mencakup seluruh alur pembelian, dari pertanyaan pertama sampai tindak lanjut pascapembelian.


Manfaat Conversational Commerce untuk Bisnis

Berikut ini beberapa manfaat conversational commerce untuk bisnis Anda.

  • Respons lebih cepat, karena chatbot menjawab pertanyaan berulang kapan saja dan agen fokus pada kasus yang butuh penilaian.
  • Rekomendasi lebih relevan, karena riwayat percakapan menunjukkan kebutuhan pelanggan.
  • Proses beli lebih singkat, karena pelanggan bertanya, memilih, dan membayar tanpa berpindah kanal.
  • Data pelanggan lebih kaya, karena pertanyaan dan keberatan mereka menjadi masukan bagi produk dan kampanye.
  • Hubungan lebih terjaga, karena tim dapat menindaklanjuti pesanan dan mengajak beli ulang di percakapan yang sama.

Jenis-Jenis Conversational Commerce

Conversational commerce hadir dalam lima jenis, dan bisnis dapat menggabungkannya sesuai kebiasaan pelanggan:

  • Messaging apps. WhatsApp platform, Instagram DM, dan Facebook Messenger memungkinkan agen menjawab pertanyaan, merekomendasikan produk, dan mengirim tautan pembayaran.
  • AI-powered chatbots dan virtual assistants. Chatbot menjawab pertanyaan umum, menyaring kebutuhan, dan meneruskan kasus kompleks ke agen.
  • SMS commerce. SMS mengirim promo, pengingat, dan konfirmasi pesanan ke ponsel pelanggan.
  • Voice assistants dan voice commerce. Pelanggan mencari atau memesan produk lewat perintah suara, misalnya di perangkat pintar atau layanan telepon otomatis.
  • Live stream dan social shopping. Penonton bertanya lewat kolom komentar, lalu penjual menjawab langsung dan mengarahkan mereka ke pembelian.

Untuk bisnis di Indonesia, WhatsApp umumnya menjadi titik awal yang paling sering digunakan karena pelanggan sudah terbiasa memakainya.


Cara Membuat Conversational Commerce dengan Mudah

Enam langkah berikut memisahkan fondasi, perancangan alur, dan peluncuran, sehingga tim lintas fungsi tahu siapa mengerjakan apa.

1. Tentukan Tujuan dan Satu Use Case Awal

Pilih satu use case bervolume tinggi yang hasilnya mudah diukur, misalnya pemulihan keranjang, pemesanan ulang, atau konsultasi produk bernilai tinggi. Lali, catat kondisi awalnya, seperti waktu balas dan jumlah pesanan per percakapan, supaya hasil nanti punya pembanding.

2. Siapkan Kanal Resmi WhatsApp Business Platform

Bisnis menengah-besar umumnya mengakses WhatsApp Business Platform melalui penyedia resmi agar chatbot, aplikasi CRM, dan banyak agen dapat tersambung ke satu nomor.

Dokumentasi Meta menetapkan dua aturan yang memengaruhi seluruh alur: pesan template dapat dikirim kapan saja, sedangkan pesan non-template hanya boleh dikirim dalam jendela layanan 24 jam setelah pelanggan menulis.

3. Bangun Opt-In dan Kerangka Kepatuhan Data

WhatsApp hanya mengizinkan bisnis mengirim pesan kepada pengguna yang sudah memberi izin sehingga Anda perlu merancang alur persetujuan.

Berikut ini langkah praktisnya:

  • Pasang titik opt-in di formulir web, saat checkout, QR di toko, atau pesan masuk pertama.
  • Simpan bukti persetujuan dan sediakan cara berhenti berlangganan.
  • Bahas retensi riwayat chat dan akses agen bersama tim IT dan Legal.

4. Rancang Alur Percakapan dan Template

Alur percakapan terbagi menjadi beberapa tahap, dan jenis pesan di tiap tahap menentukan biaya:

  • Sapaan dan kualifikasi kebutuhan memakai pesan non-template.
  • Rekomendasi produk dan tautan pembayaran dikirim dalam jendela 24 jam.
  • Konfirmasi dan pelacakan pesanan memakai template utility.
  • Ajakan beli ulang memakai template marketing yang wajib opt-in.

Meta menagih per pesan terkirim. Sejak 1 Oktober 2026, pesan layanan hanya gratis untuk 1.000 pertama per bulan per nomor bisnis, dan template utility dalam jendela layanan ikut berbayar.

5. Hubungkan Chatbot, CRM, dan Jalur ke Human Agent

Chatbot paling aman menangani pertanyaan yang jawabannya tersedia di data, seperti harga, stok, dan status pesanan, lalu menyerahkan keputusan dan keluhan ke agen.

Anda perlu menyambungkan WhatsApp katalog dan CRM agar jawaban bot selalu mengikuti data terbaru, dan beri tahu pelanggan bahwa mereka berbicara dengan bot.

Studi Muliansyah dan Nurhidayah dalam Jurnal Ilmu Data terhadap 420 responden di sektor mobil bekas menemukan bahwa persepsi empati memprediksi kepercayaan, dan kepercayaan mendorong niat membeli. Artinya naskah bot layak ditulis dengan hangat dan jelas.

6. Lakukan Pengujian Workflow

Luncurkan alur ke segmen kecil lebih dulu. Tinjau percakapan yang gagal atau berakhir di agen tanpa rencana, perbaiki alurnya, lalu tambahkan use case berikutnya.


Kesalahan yang Sering Terjadi saat Implementasi Conversational Commerce

Kegagalan conversational commerce umumnya berasal dari keputusan di sekitar teknologi. Berikut beberapa kesalahan umum yang perlu diperhatikan.

  • Memperlakukan chat seperti saluran pesan broadcast, sehingga pelanggan berhenti berlangganan atau memblokir nomor Anda.
  • Membiarkan katalog dan stok tidak sinkron, sehingga bot menjawab keliru dengan percaya diri dan memicu pesanan gagal.
  • Mengotomatiskan percakapan tanpa jalur eskalasi, sehingga pelanggan terjebak di bot.
  • Mengabaikan biaya per pesan saat menyusun template.
  • Mengerjakannya di satu fungsi saja, padahal nomor per brand, kepemilikan akun, dan retensi data menyentuh Marketing, CS, IT, dan Legal.

Cara Mengukur Hasil Conversational Commerce

Tanpa baseline, jumlah percakapan yang naik belum membuktikan apa pun. Untuk itu, Anda perlu memantau empat metrik berikut:

  • Rasio percakapan ke pesanan, dipisah per asal (iklan, situs, atau QR).
  • Biaya pesan per pesanan, dibandingkan dengan margin kotor.
  • Rasio handover. Angka yang terlalu tinggi menandakan bot lemah, sedangkan angka yang terlalu rendah disertai kepuasan menurun menandakan bot menahan pelanggan.
  • Tingkat opt-out dan pemblokiran setelah kampanye.

Bangun Conversational Commerce Anda dengan Mekari Qontak

Dengan demikian, conversational commerce berhasil bila izin kontak, alur per tahap, dan pengukuran dirancang sejak awal. 

Qontak Commerce terintegrasi dengan WhatsApp Business API resmi, chatbot AI, dan aplikasi CRM.

Platform conversational commerce Mekari Qontak ini memungkinkan tim Anda menyentralisasi seluruh interaksi pelanggan dari WhatsApp Commerce hingga integrasi marketplace, mempercepat respons, serta mengoptimalkan konversi bisnis dari satu dashboard terpadu.

Dapatkan uji coba gratis, atau konsultasikan kebutuhan bisnis Anda dengan tim Mekari Qontak.

Chatbot AI Mekari Qontak membantu bisnis meningkatkan respon pelanggan dengan otomatisasi, mengurangi risiko kehilangan pelanggan ke kompetitor.

Referensi

Kategori : E-commerceWhatsApp

Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang Conversational Commerce (FAQ)

Apakah tim kami perlu developer khusus untuk memulai Conversational commerce?

Apakah tim kami perlu developer khusus untuk memulai Conversational commerce?

Tidak selalu. Platform no-code seperti Mekari Qontak memungkinkan tim Marketing atau CS menyusun alur dasar conversational commerce, tetapi integrasi ke sistem internal umumnya tetap melibatkan tim IT.

Bagaimana menghubungkannya dengan ERP, POS, atau marketplace yang sudah kami pakai?

Bagaimana menghubungkannya dengan ERP, POS, atau marketplace yang sudah kami pakai?

Umumnya lewat API. Pastikan penyedia platform menyediakan API terbuka dan sinkronisasi katalog serta stok sebelum Anda memilihnya.

Amankah meminta data sensitif, seperti nomor KTP atau kartu kredit, lewat chat?

Amankah meminta data sensitif, seperti nomor KTP atau kartu kredit, lewat chat?

Sebaiknya tidak. Minta data seminimal mungkin dan arahkan pelanggan ke halaman pembayaran atau formulir yang aman.

Apakah conversational commerce cocok untuk penjualan B2B dengan siklus panjang?

Apakah conversational commerce cocok untuk penjualan B2B dengan siklus panjang?

Cocok sebagai kanal tindak lanjut dan nurturing prospek. Keputusan akhir biasanya tetap berada di tim Sales.